Skip to content

MAU NGEBLOG ? TERAMPIL DULU MENULIS

18 Juni 2012

MAU NGEBLOG ?  TERAMPIL DULU MENULIS

Anda berkeinginan ngeblog? Kalau iya jawaban Anda. Anda harus trampil menulis. Buat apa ngeblog kalau karya kita copy paste. Bukankah blog itu sebuah catatan harian kita. Oleh karena itu, Anda harus mulai belajar menulis.

Menulis adalah kebutuhan dasar kita. Lebih-lebih pada era digital ini. Tanpa tulis menulis hal yang mustahil. Dan Anda masih ingat kisah terciptanya huruf braile? Apa artinya tulisan bagi seorang yang buta matanya? Ya Louis Braille yang cerdas itu tahu betul arti sebuah tulisan. Maka Ia mencari cara agar dapat membaca dan menulis. Lahir huruf braille yang sekarang dapat dinikmati.

Saudaraku coba duduk sebentar di sisiku membayangkan bersama-sama. Aku ajak kalian pergi ke supermarket. Barang-barang yang hampir semuanya dikemas dalam bungkus yang sangat menarik. Apa yang terjadi pada Anda bila barang itu tanpa tulisan. Tulisan yang menunjukkan jenis barang, harga, pabrik mana yang memproduksi, de el el. Atau Anda akan menginap di hotel berbintang, apa jadinya  kamar tanpa tulisan. Dan satu lagi jika Istri Anda melahirkan , Bayi Anda tanpa tulisan dipenggelangan tangan dibaringkan bersama-sama dengan bayi-bayi lainnya semuanya tanpa tulisan. Sulit dan menyusahkan bukan?

Lantas mungkinkah kegiatan ngeblog kita tanpa menulis? Tidak akan. Hal yang mustahil bagi kita. Kalau Anda menyangkal dengan alasan, blog itu tidak melulu tulisan. Blog bisa berupa gambar. Blog bisa juga berupa tayangan video. Aku jawab non sen. Kita tetap butuh keterampilan menulis. Mereka- reka judul yang menarik. Dengan tujuan dapat di index di google. Tidak mungkin kan kita ngapload gambar polosan tanpa judul? Jadi ingat filosofi” Apalah arti sebuah nama”. Juga jika Anda ingin menampilkan foto-foto yang sudah Anda bela belain naik genteng rumah agar dapat foto yang cantik dari keindahan panorama sore. Mungkin kah Anda hanya memposting gambar tersebut tanpa kata. Tanpa tulisan. Pasti juga kita akan membutuhkan sebuah ketrampilan menulis untuk melahirkan satu kalimat yang menarik untuk mempertegas gambar yang menurut Anda menarik untuk dibagikan lewat blog Anda.

Kalau Anda mengiyakan tanda setuju. Mari Anda tetap duduk di samping saya berdiskusi bersama-sama untuk mengasah ketrampilan menulis kita. Menulis adalah keterampilan berbahasa yang paling tinggi dari keterampilan bahasa lainnya. Sebelum kita bisa menulis ada keterampilan tiga bahasa yang harus kita lakukan, terampil menyimak, berbicara, membaca. Barulah menulis.

Percaya atau tidak, kita semua adalah penulis. Di suatu tempat di dalam diri setiap manusia ada jiwa unik yang berbakat yang mendapatkan kepuasan mendalam karena menceritakan suatu kisah, menerangkan bagaimana melakukan sesuatu, atau sekedar berbagi rasa dan pikiran. Dorongan untuk menulis itu sama besarnya dengan dorongan untuk berbicara; untuk mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita kepada orang lain; untuk, paling tidak, menunjukkan kepada mereka siapa kita.

Namun sayang bakat alamiah kita banyak mengalami pengikisan setelah kita masuk di sekolah formal kita. Hal menyebabkan pelajaran bahasa Indonesia tidak disukai kebanyakkan siswa adalah kegiatan menulis. Apa sebab? Ya, teknik mengajar formal yang membuat menulis menjadi proses otak kiri semata.

Sebagai kanak-kanak, pikiran kita berkecamuk dengan berbagai macam gagasan. Dan kita tidak pernah berhenti untuk berpikir bahwa gagasan-gagasan kita bodoh hingga kita mencapai titik tertentu dalam masa sekolah kita. Kemudian sesuatu terjadi dan menutup aliran alamiah kreativitas kita. Kesadaran diri muncul. Kita menjadi kritis terhadap diri kita sendiri. Kita terperangkap dalam perjuangan pikiran dengan gagasan-gagasan kita setiap kali kita duduk untuk menulis formal. He he betul tidak?  Kalau betul aku lanjut kan. Rasanya seperti berada di dalam kekalutan di mana kita berhadapan dengan banyak jalan buntu. Akhirnya kita diliputi frustasi dan hanya duduk serta bersungut-sungut, he he sungut udang atau berpaling dari proses itu sama sekali dan melakukan hal yang lain. Tetapi bagaimana kalau situasi ini di ruang ujian ketika kita masih SD dulu? Ngak mungkinkan meninggal kan ruangan, ancamannya kita bisa tidak lulus. Maka jalan keluarnya bagiku waktu dulu hi hi aku tullis karanganku dengan huruf gede-gede berharap lekas penuh halam folioku.

Untuk mendobrak hambatan besar keterampilan menulis kita akibat salah asuhan. Tunggu di postingan saya yang akan datang.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: