Skip to content

BUANG ANGIN: KETUT PEMBEDA HUKUM TUHAN DENGAN HUKUM MANUSIA

29 Juni 2012

BUANG ANGIN: KETUT PEMBEDA HUKUM TUHAN DENGAN HUKUM MANUSIA

Kentut, ditahan sakit dibuang hemmm ….melegakan. Orang yang kentut kalau tidak ketahuan  he he itu lho gara-gara buangnya pakai suara segala sehingga tetangga kanan kiri jadi tahu, pelaku akan melenggang tanpa bersalah menikmati buang hajatnya. Akan tetapi, jika ketahuan ia akan malu, dan tambah semakin malu, kalau tetangga kanan kiri berseru, “huuu kamu kentut ya” wah muka kayak kepiting rebus.

Siapa orangnya yang tidak malu pas buang hajat sembarangan disoraki. (hi hi jarang kan kita permisi dari suatu forum hanya untuk urusan ini). Untungnya  saudaraku aku tipe orang yang gak tegaan maka aku biarkan teman samping kananku membuang hajatnya he he meski dalam rentang waktu yang sangat panjang. Bagaimana tidak panjang. Acara wisuda awal sampai wisuda berakhir aku dapat hembusan angin. He he setiap aku mencium bau tak sedap, aku pura-pura ngajak bicara dengan teman sebelah kiriku. Beruntung sekali teman wisuda yang ada disebelah kanannya karena pakai cadar. Bayangkan kalau aku berbisik padanya “ Ibu kentut ya” Seperti apa beliau? Andaikan aku berterus terang, untuk kentut selanjutnya beliau pasti tak nyaman untuk buang hajatnya. Ya aku hanya berani SMS ke suami yang jauh di sono ( wisudaku di UT Jakarta sementara suami di Kudus), “ Mas aku dapat kentut terus nih..” . Ya hanya pada suami. Tidak dengan teman wisudaku yang disebelah kiriku , he he takut bisik-bisikku kedengaran yang lainnya.

Kisah wisudaku yang kebanjiran kentut, he he biar terasa halus aku sebut buang angin ya. Mengingatkan juga pada temanku yang selesai jaga ujian UN, Beliau bilang walah uang segini kok kena pajak, ya Bu.”  Dasar aku guru Bahasa Indonesia jawabnya ngasal saja, “ Ya iya lah Bu apa sih yang tidak kena pajak di negeri ini. He he hanya kentut Bu yang tidak kena pajak” Duh ngasalku dimintai penjelasan sama rekan guruku. Ya guru Bahasa Indonesia tidak kekurangan akal maka aku buat karangan argumentasi, “ Kalau kita ke toilet umum untuk buang hajat besar atau kecil. Kita harus mengeluarkan seribu rupiah. Padahalkan itu ruangan bertuliskan “WC umum”, nah apakah kita harus bayar pas di hadapan penjaga kotak ketika kita kentut? Betul kan Bu .  He he tertawalah kami, hilanglah rasa mangkel.

Di mana pun orang buang angin kalau sudah keluar barangnya baru kita yang keluar dari forum. He he betul tidak kawan. Apa ada jamaah shalat keluar dari masjid dulu untuk menuju ke kamar mandi barulah buang angin . Dan setelah itu ia wudhu. Hayo yang mana dulu nih yang keluar, Orangnya atau anginnya dulu. Maksudku orang baru keluar dari shaf shalat setelah batal shalatnya gara-gara dalam khusuknya shalat ia kentut. Barulah ia keluar untuk berwudzu.

Ya, betul wudhulah hukumannya bagi orang yang kentut sembarangan. Meskipun orang lain tidak tahu bahwa ia yang buang angin. Ia dengan jujur mengakuinya dengan jalan ke luar dari shalat jamaahnya. Sebagai rasa bersalah dan menghilangkan rasa malu, ia tebus rasa malunya dengan membasuh mukanya dengan air wudhunya. Saudaraku kenapa kok tidak cebok ya Allah menghukumnya. He he rasa malu itu letaknya di mana hayo? Di muka, kan? .

Nah kan beda banget antara hukum Allah dengan hukum manusia. Hukum manusia soal kentut tidak akan terkena beban biaya apa pun. Ya, apa pun. Bebas berbayar.  Bebas malu. Terakhir bebas bohong. Jangan-jangan koruptor di negeri antah berantah juga layaknya hukum kentut ala manusia. He he ditahan sakit, dilepas lega. Tak ketahuan tidak berbayar denda, bebas malu, ketahuan ia meringis menahan malu. Ujungnya bohong.

 

From → coretanku

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: