Skip to content

KUNANG-KUNANG DI BELAKANG RUMAHKU

29 Juni 2012

KUNANG-KUNANG DI BELAKANG RUMAHKU

Kunang-kunang. Kunang-kunang itu apaan Mi? Anakku si bontot yang masih play group balik bertanya ketika malam itu giliranku bercerita dengan tema pilihanku. Biasanya dia yang menentukan judulnya sendiri. Tiap malam menjelang bobok macam-macam judul yang disodorkankan padaku untuk dibuat sebuah cerita. Sesuai imajinasi dia sebagai anak-anak yang suka binatang. Kadang hanya nama satu binatang saja, singa yang ia pesan. Dua binatang atau tiga binatang sekaligus. Karena aku pura-pura tidak mau dengan aksi protesku, “hei Aan lupa  ya kemarin Ummi udah cerita tentang si singa sang raja hutan”. He he dasar ia keturunan anak guru Bahasa Indonesia pandai ngarang juga , “ Ini si raja hutan dan burung dara dan kelelawar.” Hi hi lucu juga ia buat judulnya. Menggunakan dua kata penghubung sekaligus dalam satu judul.

Sejujurnya aku tidak menyangka ia mengajukan pertanyaan dulu. Setiap cerita yang aku bawakan ia langsung mendengarkan saja. Ah mungkin saja kosa kata ini belum ada dalam memorinya, memang sih ia belum melihat. Dan kuingat-ingat aku belum bernah menyebut-nyebutnya binatang yang satu dalam keseharianya. Tidak seperti aku menyebut ayam, binatang yang pertama aku perkenalkan sejak ia sudah bisa sempurna menggunakan panca indra penglihatannya. Karena binatang yang satu ini binatang paling digemari sekampungku termasuk aku. Soalnya apa? He he buat persiapan untuk dipotong di hari Idhul Fitri. Di kampungku tidak afdhol kalau tidak menyembelih si ayam kampung. Jadi konsekuenya si ayam dengan mudah berseliweran di depan matanya yang mudah aku kenalkan kepadanya. Lha ini kunang-kunang sudah menjadi binatang yang tinggal kenangan untuk manis diceritakan.

Dulu, ya dulu ketika aku masih kecil. Seingatku aku belum sekolah karena dulu aku masuk SD kalau sudah berusia tujuh tahun. Benar-benar menyenangkan usia yang bebas lepas untuk bermain. Tidak ada orang tua yang melarang bermain karena harus ikut les ini, itu. Seperti kanak-kanak sekarang. Anak-anak modern yang terlahir dari ibu kuliahan. Masih TK saja wajib les bahasa Inggris, membaca, menulis bla bla bla pusing deh. Aku dan teman-teman mainku selalu menunggu malam segera tiba. Sebab kami tidak sabar menunggu pesta kunang-kunang. Kunang-kunang  indah bila dalam kegelapan.

Begitu malam sudah  datang dan bener gelap kami langsung berhamburan dari rumah masing-masing hasil kesepakat di siang hari.  Menuju ke kebonan di belakang rumahku. Huih kami menari-nari, meloncat-loncat , berlari-lari menangkap kunang-kunang. Bersinar kerlap kerlip dalam kegelapan tanpa lampu satu pun karena kampung kami belum ada listrik. Seperti lampu diskotik? Huuu… gak selevel. Jauh. Jauh sekali. Aku menyebutnya seperti di padang ilalang duduk menengadah memandang bintang-bintang bertaburan di langit yang gelap. Lho kok tidak seperti nyanyiannya anak TK “bintang kecil di langit yang biru” he he nyayian ngawur ya mentang- mentang anak TK enak saja dikibulin. Mana ada malam berbintang dengan langit biru.

Gelap. Gelap adalah satu kepingan yang harus ada di dunia ini . Penciptaan dan kehadirannya dimaksutkan untuk menampakkan keindahan sisi-sisi yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dilihat keindahannya pada siang hari.Pada saat terang benderang.Bagaimana dengan tanggal sepuluh kemarin? Aku merindu. Merindu pada kegelapan. Ya dengan kegelapan aku bisa menikmati proses keindahan gerhana bulan total seperti dulu. Sangking rindunya imajinasiku berharap agar seluruh kota listriknya padam. Tanpa kegelapan gerhana bulan tidak jadi menarik. Hingga fenomena alam ini dilewatkan begitu saja oleh anak-anak, remaja bahkan orang tua. Tidak semenarik pada zamanku dulu sebelum ada listrik. Boleh jadi anak-anakku tidak akan tertarik melihat ketika di dalam rumah kami ada banyak kunang-kunang yang bertaburan. Karena tidak ada bedanya memandang kunang-kunang dengan lalat hijau. Sebab Kunang-kunang dilihat di ruang yang terang benderang. Ruang yang  diterangi lampu TL 100 watt.

Jangan-jangan gara-gara isu transparansi. Zaman terang-terangan, kita jadi sulit membedakan  jujur dan bohong. Korupsi dan maling ayam. Dokter tidak lagi bisa membedakan sakit dan sehat setelah lama jadi buronan gara-gara akan dimasukkan tahanan. Dan jurus apalagi di zaman transparansi buronan KPK yang baru  ditangkap ada alasan pikun.

  

From → coretanku

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: