Skip to content

MENJAGA MOOD NGEBLOG

29 Juni 2012

MENJAGA MOOD NGEBLOG

Syaitan itu menggoda untuk orang-orang yang ingin berbuat baik. He he keterlaluan sekali yang makhluk satu ini. Baru ingin saja belum berbuat baik  sudah dihalang-halangi. Apalagi yang sudah baik pasti kerja keras syaitan semakin kenceng dan memikir otak tujuh keliling untuk menumbangkan kita. Dari sisi mana ia menggoda kita agar tidak jadi menulis.? Pada wilayah jiwa kita. Jiwa bosan atau kerennya tidak mood. Mood adalah keadaan atau suasana perasaan kita.

Agar kita tidak tergoda bujuk rayu syaitan, mood gak mood tetap saja menulis blog maka kita harus tahu hukum dasar ngeblog. He he berat  benar nih. Nah ini dia hukum dasar ngeblokku:

  1.      Barang siapa yang tidak memahami dirinya, ia tidak bisa bersyukur kepada Tuhannya.

Nyadar tidak sih bahwa kita adalah makhluk sosial. Ye, dari dulu jeng dah tahu. Yes, kalau kita dah tahu mari kita dalami diri kita. Kita itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Untuk saling terhubung kita butuh kesepakatan menyebut sesuatu, yang disebut bahasa. Artinya bahasa lahir atas kesepakatan suatu komunitas. Sesuatu yang bisa mengeluarkan kukuruyuuuuk. Di sini, di Indonesia kita sebut ayam. Di sana ada yang menyebut chiken, …

Karena kita makhluk sosial otomatis kita punya modal dasar untuk pandai berbahasa. Selanjutnya aku sebut terampil berbahasa. Keterampilan bahasa ada empat. Terampilan menyimak, membicara, membaca, dan menulis.

Coba kita ulang pita rekam kita lagi. Bagaimana proses kita mendapat bahasa ibu kita. Sebelum kita (alias masih bayi) pandai berbicara hal yang dilakukan oleh orang dewasa entah ibu, ayah, atau kakak kita adalan mengajak kita berbicara apa saja. Meskipun kita belum bisa merespon, menjawab omongan orang dewasa. Mereka tetap mengajak berbicara pada kita yang masih bayi. Tujuanya agar kita menyimak sebanyak-banyaknya kosa kata untuk bekal berbicara.

Selangkah lebih maju setelah bisa berbicara, keterampilan itu kita tingkatkan dengan keterampilan membaca, biasanya orang tua mengajari membaca setelah usia sekolah. Padahal sejak bayi pun kita sudah bisa mengajari bayi kita untuk membaca. Seperti kita mengajari berbicara. He he apa mungkin orang dewasa mengajari berbicara pada kita menunggu ketika kita sudah bisa bicara. Tidak bukan?  Kapan- kapan aku akan bercerita bagaimana cara mengajari bayi kita membaca. Keterampilan membaca yang saya maksud disini bukan mengeja huruf demi huruf lagi tetapi bagaimana kita memaknai bacaan yang sedang kita baca. Kita mampu menyerap informasi, mengolah informasi, dan menganalisis informasi. Sehingga kita mampu menanggapi kembali dari tulisan yang sudah kita baca baik secara lisan maupun tertulis. Persis seperti proses kita bisa berbicara, bukan. Menyimak untuk menyerap informasi, mengolah informasi, dan menganalisis informasi. Sehingga kita bisa menanggapi secara lisan, yaitu berbicara.

Oke, tiga keterampilan kita sudah kita miliki. Tinggal satu keterampilan menulis. Kita ditakdirkan untuk bisa menulis. Seperti kita bisa menyimak dan bebicara., dan membaca. Pada keterampilan menulis banyak orang mengatakan aku sulit menulis. Padahal sebenarnya kita bisa memiliki keempat keterampilan bahasa, karena kita makhluk sosial. Yang sama-sama punya peluang mempunyai   keempat keterampilan sekaligus. Hanya saja keterampilan ini jarang kita asah (baca malas kita lakukan), lebih-lebih setelah kita sudah tamat sekolah. Maka ketika Anda membaca tulisan ini belum punya blog padahal hobi banget baca blog atau sudah menulis blog tapi jarang update. Jangan takut memulai , karena  kita makhluk berbahasa. Pasti bisa menulis.

Ingat hanya kita makhluk yang pandai berbahasa. Tidak yang lainnya. Tidak juga burung beo itu. Beo hanya bisa meniru apa yang dilatih kepadanya saja tanpa tahu maksud yang ia tiru. He he ia juga tidak bisa menjawab apabila kita sedang mengajaknya berbicara. Sedangkan kita?

Kita bisa menanggapi apa yang kita dengar, kita bicarakan, dan kita baca baik menanggapi dengan lisan maupun tertulis. Nah kan tidak ada alasan untuk tidak memposting karena tak ada mood.

Dengan memahami konsep diri ini, kita akan mensyukuri atas penciptaan diri kita. Tanda-tanda orang bersyukur adalah mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Sehingga keberadaannya dapat bermanfaat untuk orang lain. Maka mood tidak mood ya tetap menulis, kan. Tentunya dengan mengasah empat keterampilan berbahasa kita.  Kita bisa produktif menulis tulisan kreatif. Asal tidak mengabaikan satu keterampilan berbahasa.

2. Ingat akan filosofi hukum sholat .

Sholat lima waktu itu hukumnya wajib. Meskipun kita tidak dalam keadaan berminat tetap saja kita kerjakan sholat sehari lima waktu, bahkan dalam keadaan perang saja tetap sholat. Apalagi dalam keadaan sakit, lupa pun gak masalah setelah ingat ya tetap kita sholat. Namun jangan harap boleh sholat sesuka hati kita, mentang –mentang lagi mood sholat lantas kita bisa nambah semau gue. Kalau mau nambah ya ikuti hukum sholat sunnah. Tidak sholat dengan hukum wajib.

Ngeblog juga begitu, agar kita tetap bisa eksis ngeblog. Mood gak mood ya tetap ngeblog. Malas nulis boleh tetapi jari tetap menulis untuk dipostingkan. He he karena malas satu sisi jiwa kita dan mengerjakan menulis postingan adalah angota tubuk kita lainnya. Sebagaimana sholat kita. Malas sholat bukan berarti tidak sholat.

 

From → coretanku

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: