Skip to content

PRINSIP DASAR PENULISAN KRITI SASTRA: ANALISIS, INTERPRESTASI, DAN EVALUASI

29 Juni 2012

PRINSIP DASAR PENULISAN KRITI SASTRA: ANALISIS, INTERPRESTASI, DAN EVALUASI

Prinsip-prinsip dasar atau tepatnya langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memahami karya satra paling tidak meliputi tiga hal, yaitu analisis atau menguraikan, interprestasi, dan evaluasi(Simatupang, 1980; Pradopo, 1982).

Analisis adalah menguraikan karya sastra berdasarkan norma-norma atau bagian-bagiannya. (unsur intrinsiknya).

Interprestasi ialah upaya mamahami karya satra dengan memberiakan tafsiran berdasarkan sifat-sifat karya sastra itu sendiri. Menafsirkan bahasa yang ambiguitas, kegelapan, atau kiasan yang digunakan penyair atau pengarang.

Evaluasi adalah usaha menentukan kadar keberhasilan atau keindahan suatu karya satra setelah kita melakukan analisis dan interprestasi.

Contoh: Kritik Puisi “ Elegi Esok Pagi “ karya Ebit G. Ade

Puisi yang berjudul “Elegi esok pagi” karya Ebit G. Ade,bertema kesedihan /derita seorang residivis setelah ke luar dari lembaga pemasyrakatan. Sungguh sangat tidak mengenakan hati bagi sang residivis. Bagaimana ia melakoni hidupnya setelah ke luar dari penjara. Setiap ia mencari pekerjaan untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga yaitu menafkahi anak dan istri ,bukan pekerjaan yang ia terima namun tatapan curiga, sinis dan berujung penolakan. Penolakan ini karena masyarakat sudah tidak percaya lagi padanya. Hal ini menjadikan sang residivis hidup terasing di tengah-tengah masyarakat yang menjujung tinggi nilai-nilai moral kemasyarakatan. Sikap masyarakat yang berlebih-lebihan ini (orang yang pernah melakukan kesalahan tidak mungkin akan berubah) membawanya pada derita panjang. Hal ini dapat dilihat pada bait

Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama

Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya

Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga

Bagai ingin telanjangi dan kuliti jiwaku

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab

Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang

Perlakuan masyarakat yang berlebih-lebihan ini menjadi sang residivis menggugat dirinya dengan pertanyaan sebagai ungkapan kemarahan dari orang yang tak berdaya. Apakah seorang yang terlanjur salah tidak mungkin hidup normal lagi layaknya manusia . Padahal Tuhan saja mau mengampuni manusia yang telanjur berbuat salah. Sebagaimana yang diungkapkan pada bait

Apakah buku ini diri ini harus selalu hitam pekat

Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan

Sedang tuhan di atas sana tak pernah menghukum

Dengan sinarnya yang lebih tajam dari mata hari

Apakah orang telah melakukan kesalahan tidak ada kesempat lagi dengan melakukan pertaubatan dengan memperbaiki diri. Hal ini dapat dilihat pada bait

Apakah bila terlanjur salah

Akan tetap dianggap salah Tak ada waktu lagi benahi diri

Tak ada lagi tempat kembali

Dari tema puisi ini dapatlah dipetik sebuah amanat yang ingin disampaikan pembaca. Amanat puisi “ Elegi Esok Pagi ‘ adalah masyarakat hendaklah jangan bersikap berlebih-lebihan terhadap orang yang terlanjur berbuat salah. Sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mempunyai potensi berbuat baik dan jelek. Dari potensi inilah seharusnya kita bisa memaafkan orang lain yang terlajur salah.

Puisi terbentuk oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun dari dalam sastra.  Sedangkan unsur ekstrinsik adalalah unsur yang membangun dari luar sastra . Unsur yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tema, amanat dan diksi.

Tema dapat diartikan sebagai ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi yang mencerminkan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar, dan dunia metafisis yang diangkat penyair dari objek seninya (Zulfanur : 1996 – 1997 ; 80 ). Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang lewat puisinya. Diksi adalah pilihan kata yang bersifat estetis esensial. Dalam sebuah  puisi penggunaan kata yang tepat oleh penyair akan menunjukkan kemampuan intelektual dalam melukiskan suatu keadaan.

Tema puisi “ Elegi Esok Pagi “ menarik untuk dibaca dan dicermati. Ebit G. Ade mampu menuangkan perjalanan batinnya mengenai kehidupan manusia melalui media bahasa yang estetik. Zulfanur Teori Sastra , bahwa puisi merupakan ekspresi perjalanan batin ( jiwa ) penyair mengenai kehidupan manusia , alam, Tuhan, melalui bahasa yang estetik.

Diksi yang dipilih sang penyair mampu membawa kita pada gambaran pada tema dan amanat yang hendak disampaikan penyair dengan kata-kata kiasannya dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama, bagai ingin telanjangi dan kuliti tubuhku, citraan yang tertangkap pada kita adalah citraan gerak,penglihatan dan rabaan . Ini sangat pas dalam membawa misi tema.

Dengan pilihan kata yang estetik inilah puisi “ Elegi esok Pagi “ sangat cocok untuk membawakan puisi dengan cara musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi merupakan suatu kegiatan penyampaian puisi melalui permainan musik  sehingga menciptakan warna tersendiri baik itu  pada puisinya maupun musiknya. Perpaduan dua aliran seni tersebut dapat memunculkan suatu pemaknaan yang mendalam. Dan Ebit G. Ade mampu melakukan ini.

 

From → coretanku

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: