Skip to content

UJIAN MERAH JAMBU

29 Juni 2012

UJIAN MERAH JAMBU

Pada merah jambu ini , semoga tidak terulang. Jika kita menjadi orang tua, jangan melakukan hal-hal yang seharusnya sudah dilakukan  pada waktu muda. Cinta monyet adalah istilah awal kita tertarik pada lawan jenis kita, orang bilang usia puber. Kita  mulai mengenal merasa. Merasa di luar diri kita ada kehidupan lain.

Merasa untuk berbagi. Itulah cinta monyet. Akan kah kita ingin mengulang lagi masa-masa itu? Naif kan kalau kita ingin melewati lagi? Bukan kah seharusnya itu sudah kita kerjakan di masa puber kita.

Usia kita tidak muda lagi, sudah kepala empat. Usia yang cukup matang untuk menjadi orang tua. Karena pada usia ini kita sudah tidak berbanting tulang untuk mencukupi kebutuhan materi lagi. Ya, tidak seperti awal-awal tahun pernikahan kita. Cukup memeras tenaga agar anak-anak kita tersjahterakan.

Pada merah jambu ini, seharusnya anak-anak kita yang sedang mengalaminya. Dan mereka butuh kita. Karena kita pernah merasa. Apa yang terjadi jika anak dan orang tua sama-sama sibuk dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Cukup menggelikan bukan? Beda usia tetapi mengalami rasa yang sama. Terserang cinta monyet.

Cinta yang sudah dianugrahkan Allah pada kita meskinya kita syukuri. Cinta yang diulurkan pada pasangan kita adalah cinta yang hakiki. Sementara dengan yang lainnya adalah fatamorgana. Disangka ada namun tiada. Kenyamanan dan ketentraman mustahil akan kita dapatkan. Yang ada justru sebaliknya, gersangnya cinta.

Janganlah kita sia-siakan cinta yang tulus dari pasangan kita.  Mungkin tidak seantusias dan semesra yang ditampilkan dari yang lain. Karena pendamping kita cukup kompleks peran yang diambilnya. Ia kadang sebagai pendamping, ibu, dan kekasih. Dan inilah peran kekasih sering dilalaikan atau tepatnya kebagian porsi yang begitu sedikit dalam kehidupan rumah tangga kita. Dan di luar sana ada yang menawarkan untuk berperan sebagai kekasih. Dengan segala kemanisannya , kecentilannya, kekanak-kanakannya, dan kemanjaannya. Begitu kita tak tega kalau Ia merengek . Itulah alasan klise. Dan panggilan sayang jika ia ada maunya cukup luar biasa melambungkan. Padahal kalau mau jujur ketika istri kita merengek seperti yang lain Kita anggap tak pantas . Menambah kepenatan saja.

Semenarik apa pun, yang di luar sana jangan kau izinkan mengisi ruang kosong yang belum diisi oleh pasangan kita. Boleh jadi ia telah mengisinya namun kau tolak atau pun belum menyadarinya.

Pada ujian merah jambu ini, Allah aku meminta cinta Mu agar aku dapat mencintai keluargaku, untuk meniti tangga cinta MU. Meski sulit meniti di atas serpihan ini. Namun aku tak kan salah meminta. Sebab karena luasnya cintaMu.

Terinspirasi pada perkataan Bapak Mario Teguh, “ Jika kita menjadi orang tua, jangan melakukan hal-hal yang seharusnya sudah dilakukan  pada waktu muda.”

 

 

 

 

 

From → coretanku

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: