Skip to content

MEMBINCANGKAN HIDUP

24 Agustus 2012

MEMBINCANGKAN HIDUP

Pernahkah Anda menjadi tong sampah buat orang lain? Tempat untuk mendengar segala keluh kesah yang pernah dia alami dalam kehidupan. Dia hanya menginginkan Anda sebagai pendengar saja. Ya, hanya pendengar saja. Ia tidak mengharapkan solusi Anda. Dia hanya menginginkan empati Anda.

Satu kali. Dua kali. Awal Anda mendengarkan kisah pilunya. Tak mengapa. Anda masih bersabar hati setia mendengarkan kisah pilu hidupnya. Kegetiran masa kecil. Bagaimana ia hidup tanpa kasih sayang. Kondisi ekonomi yang menekannya hingga ia kehilangan masa ceria remaja pada umumnya. Dan ketika masuki gerbang pernikahan pun tidak membawa angin perubahan. Kehidupan rumah tangga tak membawa perubahan selain penderitaan. Anda masih antusias mendengar. Namun bagaimana bila ia datang dan datang lagi dengan cerita yang sama?

Hems, alih-alih memberikan empati malah sikap sebal kita yang akan keluar. Bagaimana kalau sudut pandang saya ubah. Artinya Anda yang menjadi pribadi yang berkarakter keluh kesah. Sungguh orang lain akan sebal dengan Anda, tentunya.

Memang pada penciptaan diri kita punya potensi suka berkeluh kesah. Sudah puas apabila derita yang menimpa kita, kita bagi-bagikan kepada sesama kita untuk mendapat simpati.” Ini lho saya sangat menderita. Tidak seperti kamu yang hidup dengan bahagia. Segala yang Anda inginkan selalu engkau dapatkan. Tetapi saya?” Kira-kira itulah alasan ketika kita mau berkeluh kesah. “ aku ingin berkeluh kesah agar kau mengerti aku. Mengapa sikapku dalam meghadapi hidup tidak bergairah.”

Sebenarnya jika kita mau berpikir jernih atas penderitaan, kesempitan. Entah kesempitan ekonomi, kesehatan, atau yang lainnya yang sudah menjadi masa lalu dalam hidup kita. Hidup kita akan lebih baik. Bahwa apa yang menimpa kita adalah sebagai energi besar buat menatap masa depan kita.  Kepiluan di masa lalu bukan bayang-bayang yang membayangi kehidupan kita bersama dengan orang-orang yang ada di sekelilingi kita.

Orang-orang yang ada di sekeliling kita akan lebih senang bila Anda berbuat sesuatu untuk mereka. Memberi kebermanfaatan buat mereka juga lebih baik buat Anda sendiri. Anda akan mendapat kegairahan hidup yang luar biasa. Karena dengan bekerja pikiran Anda akan jalan. Memilah-milah dan memilih-milih sekiranya mana yang pas dan cocok untuk Anda berikan kepada mereka. Mereka bahagia dan Anda lebih-lebih. Sebab menjalani hidup menjadi lebih menarik daripada membicarakannya.

From → coretanku

4 Komentar
  1. Inilah perlunya pembuktian, karena banyaknya membincangkan keluh kesah ciri tak menikmati hidup…😀

    • mintarsih28 permalink

      betul pak roni berkeluh kesah sebuah tanda tak mensyukuri nikmat. sikap ini semakin membuat kita terpuruk dalam menjalani hidup, ” hidup segan mati tak mau”

  2. kadang keluh kesah itu kita tuangkan dalam sebuah tulisan, tanpa terasa

    • ya betul pak narno untuk melepas beban hidup kita bisa mengeluh pada orang lain atau bisa dengan coretan tangan/menulis. namun hal yang dibenci Allah tentu juga kita bila keluh kesah itu menjadi karakter sehingga kita tidak optimis dalam menjalani hidup. hidup segan mati tak mau begitulah peribahasa meungkapkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: