Skip to content

Loroh-loroh Sudah Luruh

29 September 2012

Loroh-loroh Sudah Luruh

Sunnatullahnya hal yang baik sulit untuk bertahan. Seperti adat loroh-loroh. Waktu saya masih kecil adat saling menyapa tidak mengenal strata umur, kelas sosial atau jenis kelamin.  Setiap kali kami berpapasan saling menyapa. Tidak ada gengsi-gengsian. Kadang yang tua menyapa yang muda lebih dulu. Lebih-lebih jika orang tua bertemu anak kecil dapat dipastikan mereka yang menyapa lebih dulu.

Sapaan yang dilontarkan pun sangat sederhana, “ Le atau nduk.” Atau agak panjang sedikit, “ Mau ke mana Le/Nduk. “ Bahkan hanya tersenyum saja. Begitu juga sebaliknya. Anak-anak pun pandai menyapa kepada yang  tua, teman sebaya, juga yang agak tua sedikit dari mereka. Juga kata-kata yang dilempar pun sederhana, “Mbah. Mas.” Ya, setiap berpapasan mereka selalu loroh-loroh. Bertanya dan memanggil sebutan nama mereka tidak untuk tahu atau sok tahu mereka hendak pergi kemana. Mereka hanya ingin bertegur sapa saja.

Tegur sapa ini membuat hampir semua warga tahu, baik yang tua maupun yang muda. si A dan si B itu namanya siapa, anaknya siapa rumahnya di mana. Jadi tidak ada gep generasi. Kalau anak di tanya alamat si A atau si B meski si A sudah berumur lanjut ya akan di tunjukkan alamatnya karena memang ia tahu. Begitu juga bila ada remaja yang ingin tahu rumah kawannya pas ketemu si B yang sudah lanjut usia juga bisa menunjukkan alamat rumah yang dicari. Karena memang tidak ada gep generasi.

Namun sekarang sepertinya adat loroh-loroh sudah mulai pudar. Kebanyakan yang masih melakukan adat ini hanya angkatan kelahiran 70-an ke atas. Saya lihat jarang anak-kecil menyapa kami. Ketika kami menyapa anak-anak sepertinya gak di gubris. Malah bingung kok ada yang nyapa. Kali di pikiran sang bocah, “ Bukan emakku kok nyapa. Kok manggil”. Jadilah gak nyambung.

Meski adat loroh-loroh ini sudah mulai luruh. Hanya berlaku di kalangan perteman yang mereka kenal saja. Maksud saya hanya terbatas kesamaan tingkat usia, perkumpulan yang mereka ikuti, saya mengharap tidak menjadi pemicu tawuran. Boleh jadi tawuran salah satu penyebabnya adalah budaya saling sapa hilang dalam masyarakat. Bukan kah saling sapa awal tercipta ikatan emosional satu dengan lainnya?

From → coretanku

11 Komentar
  1. hmm seharusnya masih ada terus ya.. nggak cuma di jawa aja, tapi juga seluruh masyarakat.

  2. Bener juga ya Bu, dulu di kampung rasanya guyuuub banget karena saling sapa. Sekarang ego yang dikedepankan. Ini kejadian di kampung saya di Surabaya sana….

  3. kalau di kampungku sini mbak nggak ada bedanya tua muda, kenal atau tidak kenal mereka selalu menyapa, baik kalau kami pas bersepeda atau jalan kaki, biasanya pakai kata hallo, selamat siang, pagi dsb, sering aku disapa anak anak atau cowok, orang tua yg nggak aku kenal, padahal orang sini termasuk sangat individualis, nggak tahu knp bisa begitu ya, apa karena sudah jadi kebiasaan ?🙂

  4. Ironis yah Bu mengingat makin terkikisnya budaya loroh-loroh dilingkungan kita.
    Dan pemicu tawurpun. mungkin salah satunya juga karena adanya penggolongan-penggolangan seperti yang di sebutkan. sehingga ikatan emosional itupun juga terpisah-pisah.😀

  5. Tampaknya sekarang kehidupan kita terperangkap dalam gap generasi ya Mb Min. Orang seusia hanya mengenal yg sak level usianya. Jika terjadi silang seperti dlm loroh2 mereka jadi heran. Sebetulnya loroh2 bisa dihidupkan kan kembali. alangkah idealnya jika sekolah sbg institusi pendidikan resmi memulainya dng membuat program2 humanis. Just my two cents Mbak🙂

  6. budaya loroh-loroh sudah luruh, tegur sapa tlah tiada, siapa yang mau menghidupkannya kembali…

  7. ya ya.. kok kayanya belakangan ini jarang melihat anak-anak yang ramah bisa bertegur sapa. Baru ngeh..

    Saya ingat-ingat, saya juga rasanya selalu membujuk anak saya terlebih dahulu, agar mereka mau menyapa teman-teman saya /tetangga yang mampir..

    • he he seperti permasalhan nasional saja ya Bu dani mungkin inilah yang menjadi orang mudah tawuran dua orang sampai dua golongan.

  8. Selamat pagi sahabat.
    Terima kasih atas artikelnya yang menarik dan inspiratif

    Jangan lupa mengikuti kontes Unggulan Indonesia Bersatu lho ya. Klik saja : http://tamanblogger.com/blogging/konteskuis/kontes-unggulan-indonesia-bersatu-cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran

    Terima kasih.

    Salam hangat dari Surabaya

  9. Setuju Mbak Min…mungkin karena sekarang masing – masing lebih asik memijit gadget yaa…jadi lupa untuk loroh – loroh…Beruntung aku tinggal di desa Mbak jadi masih ada tradisi loroh – loroh itu, kepada anak – anakpun aku tekankan demikian untuk selalu menyapa dan menghormati oarng yang lebih tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: