Skip to content

Balita Belajar Membaca Memang Boleh?

1 Oktober 2012

Balita Belajar Membaca Memang Boleh?

Dalam dunia pendidikan anak usia TK belajar membaca masih menjadi perdebatan. Ada pakar pendidikan yang membolehkan dan ada juga yang melarang. Saya pribadi tidak ambil pusing dengan dua argumen dua kubu yang berbeda pendapat. Saya hanya mengikuti kata hati saya sebagai ibu.

Pada dasarnya organ telinga sebagai salah satu alat untuk mencari ilmu pengetahuan berbeda dengan organ pancaindra lain, mata. Telinga meski si empunya masih dalam kandungan ia sudah berfungsi. Dan ajaibnya lagi ia tak pernah istirahat. Meski mata terpejam ia masih saja aktif mendengarkan. Tidak percaya? Buktikan saja kalau ada orang mengingau ajaklah bercakap-cakap, dia akan ngomong pada Anda. Oleh karena itu, ketika jabang bayi lahir orang tua di sunnahkan mengadzani si jabang bayi.

Berangkat dari sinilah saya tidak khawatir mengajari buah hati kami mulai lahir untuk membaca. Meskipun mereka masih bayi merah. Lantas bagaimana caranya? Apa kita tunjukkan huruf-huruf abjadiyah di depan matanya? Sementara mata belum bisa melihat? Bukan itu cara mengajari bayi merah Anda. Perdengarkanlah saja. Huruf yang kita perdengarkan pun tidak sekaligus kita berikan semua kepadanya. Bertahap saja. Biasanya Saya perdengarkan huruf vokalnya dulu sebab huruf vokal yang lebih fleksibel untuk bermain kata. Misalnya huruf  A dulu. Huruf ini saya perdengarkan saat-saat menyusui, bercanda, mau membobokkan pada siang hari atau malam hari.

Barulah setelah dia sudah bisa melihat saya perlihatkan huruf-huruh itu. Lewat gambar yang saya pasang di diding. Setiap mau mandikan pagi atau sore sambil lalu saya ajak melihat gambar sambil menunjukkan bentuk hurufnya. Atau jalan-jalan pagi menunjukkan benda-benda yang kami lintasi maupun yang terlintas. Jika mau bobok saya pun mendongeng dengan menunjukkan gambar sambil menyisipkan huruf dan saya bacakan saja. Entah ada respon maupun tidak. He he tidak masalah, saya senang saja melakukannya. Pada intinya aktivitas ini mengklopkan anatara huruf yang sudah didengar dengan yang dilihat itu saja tujuan sederhana yang saya lakukan.

Dan ketika dia sudah dapat tengkurap dan sampai pada usia dua tahun. Pada masa inilah hampir semua pancaindranya sudah berkembang sempurna dan anggota badan juga bergerak sempurna. Saya mengajari anak membaca sudah agak berbeda dengan ketika anak baru bisa melihat. Pada rentangan usia ini saya kenalkan dengan huruf-huruf abjadiyah yang terbuat dari bahan plastik. Kadang waktu saya nyuci anak ikut bermain air di bak cucian saya sebar huruf-huruf itu. Saya katakan, “Cari ikan-ikanan tuh.” He he acara nyuci saya beres, anak senang. Setali tiga uang. Atau memainkan huruf itu dengan menyusun kata sapaan untuk ayah bundanya atau nama-nama benda yang sudah pernah dilihatnya di atas lantai.

Nah, terakhir mengajari membaca agak formal namun tidak ada tekanan ketika anak memasuki usia TK kecil sampai TK besar saya ajari anak membaca dari buku pintar membaca. Dan Alhamdulilah lulus TK mereka sudah dapat membaca lancar dan masuk SD Sudah tidak belajar membaca tetapi membaca untuk belajar.

Adalah sangat tidak adil kalau saya mengamati pada pelajaran Bahasa Indonesia kelas satu SD. Pada buku pegangan Bahasa Indonesia kelas satu SD muatan materinya anak tidak untuk belajar membaca tetapi sudah pada tingkat membaca pemahaman. Waduh, kasihan si anak kan terjadi pembajakkan otak.

Jadi, kupikir dan  kurasa lebih baik  sedini mungkin anak kita ajari membaca. Selama mengajarinya bukan dalam rangka membajak otak si anak. Ikuti saja fase-fase perkembangan anak. Baru suka mendengarkan ya kita perdengarkan. Fase suka melihat ya perlihatkan. Begitu juga suka jalan-jalan ya perkenalkan membaca dengan jalan-jalan. Suka jajan kasih duit biarkan anak jajan sendiri dan tidak lupa baca bungkusnya.

Bagaimana pengalaman Ayah Bunda mengajari buah hati  membaca? Kasih tahulah pada saya he he boleh jadi pengalaman Ayah Bunda dapat saya susun menjadi buku praktis.

21 Komentar
  1. wah .. aku nyimak dulu mbak, belum punya pengalaman, soalnya belum punya anak🙂

    • duduk rendengan sama mbak Ely, sama2 blom punya anak hehehe

      • gak papa mabk niq asal akur sama el.
        tapi memang anak itu hanya titipan. he he saya pinginnya dua cukup eh Allah kasih empat padahal sudah berikhtiar hanya cukup dua anak.
        semoga Allah juga akan memberi titipan anak pada mbak niq

  2. Teguh Puja permalink

    Kalau dari segi psikolinguistik, pengenalan seperti ini memang akan sangat membantu tingkat perkembangan kebahasaan anak dan juga sekaligus menguatkan memori anak. Golden age jika memang dioptimalkan sedari ini akan sangat, sangat bermanfaat dan membawa banyak kebaikan bagi anak.

    Jika di masa SD, anak masih ditemani dengan diperdengarkan dongeng atau cerita, itu juga akan sangat bagus. Melatih pemahaman anak dari hal-hal kecil yang bisa dinikmati mereka.

    Satu pencapaian yang sangat bagus Mbak.😉

    • iya puja betapa dengan mendongeng akan melatih daya simak anak. anak juga mudah konsentrasi. makasih puja atas apresiasinya

  3. Maaf ya Bu.., ni sekedar berpendapat saja.
    Kalau memang mampu mengapa kq tidak boleh..!!!
    saya rasa, kemampuan anak tidak bisa diukur hanya dengan kurikulum begitu saja..hehehe..:mrgreen:

  4. Setuju Bu.
    dari awal memang sebaiknya kita ajarkan pada anak.
    Caranya memang tidak dengan menyodorkan huruf-huruf tapi lebih ke melatih otak mereka untuk membiasakan mendengar kata-kata dan sebagainya. Tidak dengan bicara ber-cadel-cadel.😀

    • betul Dan jangan bercadel-cadel. beruntung kita punya bahasa indonesia yang mudah. sangat sedikit resikonya anak bercadel bila belajar b. indonesia. tidak seperti bahasa jawa misalnya. Banyak cadelnya. apalagi ditambah aksi ortu yang sengaja bercadel ria. Tambah runyam pendengaran anak.

  5. sebagaimana sunnatullah awal belajar yaitu mendengarkan sebab Allah memberi pendengaran, penglihatan dan hati supaya bersyukur. dan Bersyukurlah suami ibu yang telah membimbing anak-anak nya seperti itu. semoga kelak menjadi anak anak yang sholih dan sholihah ya buu….

    • berangkat dari ayat inilah pak narno saya berani mengajari anak saya membaca dengan metode yang pas sesuai dengan fase mereka

  6. tapi pengalaman dengan para ponakan sih, terutama ponakan yang dititipkan di rumah, kami sudah mengenalkannya dengan kebiasaan membaca, dan untungnya dia pun suka2 saja. Kalau ke mal ya udah ngerti nyari nya toko buku.😀

  7. Setuju banget Mbak Min..pengalamanku hampir sama dengan Mbak Min…alhamdulillah juga mereka lebih bisa cepet baca, dibandingkan aku dulu ..hiks !

  8. Anak-anakku lulus TK sudah lancar membaca latin dan arab semua, yang besar sekarang dah kelas 5 dan 6 SD, sepertinya tak ada masalah dengan ajaran waktu TK dulu. Kurikulum SD sudah menuntut kelas 1 bisa membaca, adalah tidak adil bila kurikulum TK tetap jalan di tempat seputar bermain dan bernyanyi saja.

    • betul ainul kurikulum SD sudah bisa membaca tapi ada pendapat di TK tak membolehkan. Biasa hanya kenal huruf saja

    • “kurikulum SD sudah menuntut kelas 1 bisa membaca, adalah tidak adil bila kurikulum TK tetap jalan di tempat seputar bermain dan bernyanyi saja.”

      bener banget mba… blum lagi di tambah inggris dan grammar… *pegangin kepala, bingung ngajarin anak gimana*

      • iya bupep bukunya itu lho tak sesuai dengan fase perkembangan anak, he he ditambah guru belum mahir bahasa inggrisnya. Tepuk jidad deh

  9. “Adalah sangat tidak adil kalau saya mengamati pada pelajaran Bahasa Indonesia kelas satu SD. Pada buku pegangan Bahasa Indonesia kelas satu SD muatan materinya anak tidak untuk belajar membaca tetapi sudah pada tingkat membaca pemahaman. Waduh, kasihan si anak kan terjadi pembajakkan otak.”

    dan semua SD begitu .. serba salah jadi ortu

    • oleh karena itu mbak daripada anak stremendidik membacanya kita ajari sedini mungkin tetapi kita sesuaikan dengan fase perkembangan anak dengan metode pembelajaran yang sesuai.

  10. boleh donk mbak.. malah kalo masih kecil kan tok cer tuh mbak.. murid saya yg udah SMK aja ada yg masih gagap baca tulis *ngelus dada*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: