Skip to content

Pola Asuh: Remaja Kita Tidak Sedurhaka Kang’an, Bukan?

8 Oktober 2012

Pola Asuh: Remaja Kita Tidak Sedurhaka Kang’an, Bukan?

Mengasuh anak pada usia remaja sangat menguras emosi. Bagaimana tidak menguras emosi? Mereka merasa sudah gede. Ya, mereka hanya merasa, belum yakin betul kalau dirinya sudah gede.  Kesadaran penuh sebagai manusia dewasa belum melekat kuat pada akalnya. Jadi ya wajar saja bila perasaannya selalu diombang ambing. Maunya ABG itu menuntut haknya saja, bila sudah menyangkut kewajiban hems …jangan ditanya.

Kalau hanya berbekal pengetahuan ketika kita remaja dulu tentu tidak memadai. Bukan memuluskan melewati masa remaja anak kita melainkan akan terjadi perang tanding tuntut-menuntut antara Anda dan anak Anda.  Anda akan menuntut kepada si anak ini itu sesuai remaja jadul kita. Betapa kita dulu “sendiko dawuh” bila orang tua melarang. Sekali perintah akan menjalankan selamanya. Bila bermain pun tidak lupa akan kewajiban yang diserahkan kepada kita.

Sementara bagaimana sekarang? Huah kewajiban yang sama harus selalu dingatkan. Berulang-ulang, tanpa pengulangan perintah mereka tidak akan mengerjakan. Dan payahnya lagi ketika mereka diingatkan malah dia yang ngambek. Nah, kalau sudah begitu apa kita yang tidak senewen? Mau marahkah Anda? Tambah runyam masalahnya. Akan terjadi perang nadi.

Lebih-lebih lagi kalau mereka kita  mengajak kepada hal-hal yang yang baik. Kalau tidak memahami spikologi remaja ya kita akan kehabisan energi. Bakal makan hati. Ketika kita tahu sifat remaja itu dari segi emosi: sifatnya sensitif, reaktif yang kuat, emosinya bersifat negatif dan temperamental ( mudah tersinggung, marah, sedih, dan murung.) Maka akan jauh lebih enak bergaul dalam membimbing mereka melewati masa ini.

Atas kepahaman sifat remaja dan ditambah pengetahuan kondisi zaman kekinian. Zaman yang menawarkan kepada remaja kita serba instan maka tinggal berpulang pada kita, orang tua. Bahwa satu hal yang kita sadari remaja kita adalah memasuki masa proses menuju kesempurnaan meniti kebaikan. Masa sebagian kanak-kanaknya yang sudah dilalui bersama Anda. Segala kabaikan yang sudah Anda berikan. Lewat tauladan Anda. Bagaimana Anda menyuapi yang Anda awali dengan doa. Mencarikan makan dan pakaian dengan cara halal. Saya kira tinggal setahap lagi Anda hantarkan remaja Anda menjadi manusia dewasa yang berbudi. Sayang sekali bukan kalau karakter yang sudah Anda tanam baik-baik. Anda bunuh lantaran kita tidak sabar dan ikhlas.

Lihatlah bagaimana Sang ayah, nabi Nuh. Tetap memanggil-manggil sang anak, Kan’an. Tetap berharap sang anak untuk mengikuti jejak keimannya. Beliau bertindak begitu karena baginya hanya tahu berusaha dan anaknya masih dalam proses menuju kesempurnaan hidup. Dan baru berhenti ketika taqdir anak berhenti. Kematian.

 

18 Komentar
  1. memang nggak mudah ya mbak jadi orang tua itu

    • betul mbak el. lebih-lebih anak sekarang beda jauh dengan kita. hanya ikhlas lah yang bisa kita lakukan.

  2. Orang tua harus bisa mengikuti segala perkembangan jaman dan dinamikanya ya Bu. Saya masih belum punya pengalaman nih. Masih belajar bareng istri.

    • saya juga belajar Dan. Punya anak empat dengan dua remaja cowok hems sangat khawatir bila salah-salah mendidik. Sementara saya wanita tentu remaja putri dengan remaja laki-laki sangat beda dan ini tentu tidak bisa jadi pedoman bagaimana mengasuh mereka.

  3. narno3 permalink

    pengalamanku panjang bu min, mngkin krang sabar aja hbis kmaren baru marah dan sedih. sehari sebelimnya istriaku malah mecahin piring memang berat ya bu jadi ortu

    • he he pecahkan saja piringnya lalu lari ke hutan. pecah piring untuk mendratisr keadaan pak narno. memecahkan kebekuan. Dan si sulung bereaksi. Aku ajak buat makanan kesukaannya

      • narno3 permalink

        tapi jangan sering mecahin piring nanti kasihan suaminya lho gak bisa beliin piring

  4. emosi sya kdg msh turun naik klo sdg memarahi anak mb…

    • mari ben kita berbenah agar tidak mudah naik turun. namun ketika anak butuh ketegasan kita ya lakukan saja.

  5. jadi orang tua nggak ada berentinya untuk terua belajar ya…

  6. Jaman berubah, cara mendidikpun harus ikut berubah. Buat kita yang dulu diajarin untuk manut, memang jadi susah menerima kenyataan bahwa anak sekarang lebih berani dan kritis.

  7. Reblogged this on SasliRahmat and commented:
    Bagus

  8. Cerita tentang mengasuh anak memang tiada habisnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita dalam mengasuh anak-anak kita.

  9. mendidik anak memang susah ya mbak … orang tua mesti bisa mengikuti perubahan jaman …
    Salam

    • mintarsih28 permalink

      betul wong, godaan ke hal negatif sangat besar untuk zaman ini

  10. kunjungan balik. TFS yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: