Skip to content

KEPLOK ORA TOMBOK

18 Oktober 2012

KEPLOK ORA TOMBOK

Anda pecinta olahraga sepak bola? Jika Anda suka pasti tidak asing dengan yang satu ini. Keplok-keplok bila klub yang  Anda jagokan menang. Seringnya juga keplok-keplok ditujukan pada klub lawan . Hanya saja maknanya lain. Keplok-keplok ini untuk mengejek. Bagaimana reaksi pemain?  Apakah konsentrasi permainan akan buyar  gara-gara tepukan tangan penonton? Tidak,  kan?  Mereka tidak perduli.

Hidup juga begitu. Sesungguhnya hidup kita sedang bermain layaknya pemain sepak bola.  Sering kita mendapat cercaan, makian, atau cemooh. Lebih-lebih kalau kita baru dapat jabatan pemimpin yang melibatkan untuk mengatur  banyak orang  kritik pedas sering kita dapatkan. Kurang sedikit saja dalam melayani  hajat mereka , mereka akan menuntut. Herannya lagi  bila jabatan yang kita sandang itu bersifat sukarela.  Tanpa bayaran, seperti ketua RT, atau kepanitiaan keagamaan. Entah kepanitian itu di kantor atau lingkungan kampung. Mereka itu nuntut kita sempurna dalam melayani mereka. Kurang sedikit omelan-omelan, kasak-kusuk akan kita dapatkan.

Kalau kasak-kusuk, kritikan yang tidak mengenakkan hati kita tanggapi. Bisa-bisa pikiran kita senewen. Maka lebih baik kita berprinsip. “ keplok ora tombok “ Maksud  idiom ini ya cuek bebek sajalah. Lha wong mereka itu hanya memposisikan penonton. Ih iiiihhh,  penonton itu ya bisanya Cuma keplok-keplok. Karena keplok-keplok itu tidak beli alias keplok ora tombok. Kita baik ya dipaido, apa lagi jelek. Sama saja. Oleh karena itu, jangan ambil pusing. Cacian, kritikan tidak akan membuat kita mati berdiri kok.

Ya, bila kita mau berbuat baik ya bismilahi tawakaltu alallah, apabila kita bertekat ya bertawakalah. 

 

 

 

From → coretanku, kataku

20 Komentar
  1. benar mbak Min, kasian pak RT udah cape di hujat lagi hehe

  2. begitulah adanya bu min, aku pernah jadi ketua rt, memang harus cuek bebek ya jika ada warga yang lagi kasak kusuk

  3. Sukaaa bu Min. Bener emang. Keplok ora tombok. Hehehe.
    Lama ga denger frasa ini. Maju ajah.😀

  4. Selain seperti itu juga gini Mbak : bila kita sukses, ada aja yg kasak kusuk iri dan memfitnah…tetapi bila kita mengalami ‘jatuh’..langsung banyak yg keplok ora tombok….so memang harus jadi bebek dulu deh sebelum kita sukses biar bisa…cueeeekkk hahahaha

  5. setuju bu Min, memikirkan berbagai kasak-kusuk memang bikin stress, lebih baik ya di cuekin saja …
    Salam

  6. hahaha … jadi mbayangin pas saya teriak2 sambil ngeploki klo gawang lawan kemasukan gol … puwasssssss…. eh tapi bener juga ya mbak, bisa direfleksikan ke dalam kehidupan sehari2. seringnya saya masih ambil pusing dengan omongan orang, padahal saya tak perlu pusingin ya hihihi anggap lagi maen bal2an😀

    • iya mbak niq, cukup mampu menetralisir bila hati panas akibat orang yang hanya bisanya maido,”keplok ora tombok”

  7. abedsaragih permalink

    Keplok itu bahasa daerah lombok ya.Saya agak kurang ngerti🙂

    • memang abed dr daerah mana? itu idom orang jawa. keplok itu tepuk tangan. tombok itu urun atau turut serta. jika kita berbuat baik kok masih ada orang yang tidak ikut andil apa apa bisanya cuma komplen/maido saja maka kita hibur diri sendiri,”keplok ora tombok”

  8. pancen rugi mbak nanggepi wong sing gaene maido😛

  9. Nek Bu Mars ngeploki bakul bakso, aku tombok lho Mbak😀

  10. kalo saya kadang mikir, jangan2 paidonya bener..
    kadang kan mereka melihat apa yang tidak kita lihat. baru kalo kata2nya memang ga bener dan ga perlu digagas, ya biarkan aja…

    • ya vio kalo kita tahu karakter orang yang suka maido itu lho yang harus kita sikapi ga perlu kita gagas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: