Skip to content

Bagaimanakah Istri yang Memikat

7 November 2012

Duduk di samping ku . Sebelumnya minta izin untuk berbagi cerita. Tidak menyangka ia membuat ku menangis dalam  hitungan detik. Bagaimana mungkin kata ini menimpanya. Ia istri yang baik. Malah sangat baik untuk  ukuran kini. Setiap hari memasakkan, menyetrikan baju, menyiapkan baju  ke kantor. Bersih-bersih rumah. Semua itu dilakukan di tengah-tengah kesibukannya dia sebagai tenaga pendidik baik di sekolah maupun di bimbel. Begitu telaten bila suami sakit melebihi perawat. Kesabarannya menyuapi sendok demi sendok, mengambilkan obat hingga memastikan obat sampai di minumnya.

Sungguh kaget aku dibuatnya atas kepandainya menyimpan duka itu sendiri. Dalam sehari-hari tidak pernah keluh kesah atas perlakuan yang didapat dari suaminya. Betapa ia banyak mendapat perlakuaan kasar. Baik kekerasan fisik atau  kata-kata. Aku tidak yakin kalau  dia mengalami ini semua dan waktunya cukup lama, sebelas  tahunan dalam usia pernikahannya. Begitu ia mengatakan, “aku diceraikan suami  Bu.”Bagiamana mungkin? Sebagai teman ia begitu baik kepada siapa saja.Tidak dengan  saya  saja. Baik tutur katanya. Suka  membantu  bila ada meminta bantuan. Sangat ringan tangannya. Dan yang sangat menarik darinya selalu membawa suasana ceria.

Hampir sempurna  ia memainkan peran drama rumah tangganya. Andaikan saja ia tidak menerima putusan cerai, keburukan suami disimpan rapat-rapat. Tidak akan berbagi dengan ku. Ia atasi sendiri kemelut rumah tangganya. Ia berharap dengan rentangan waktu ia bisa menata cinta. Namun taqdir berkata lain. Suaminya mengambil keputusan cerai, ia memilih wanita lain. Katanya ia sudah tidak bisa hidup dengannya lagi. Meskipun ia mengakui istrinya baik.

Yang menjadi pertanyaan, apakah membosankan mempunyai istri baik? Menjemukan kah istri yang patuh itu? Monotonkah bagi laki-laki bila istri selalu ingin membahagiakan suami. Apa-apa yang menjadi keinginan suami, ia berusaha memenuhi selam aitu tidak melanggar agama.

From → coretanku

26 Komentar
  1. hmmm …. byk juga pertanyaan yg muncul mbak di kepala, kok bisa suaminya menceraikan istrinya itu ?🙄

    mungkin karena saya juga tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi diantara mereka, yg mungkin hanya mereka berdua yang tahu, kasihan juga ya mbak sang istri😦

  2. hhfftt.. another story of divorcement..😦
    siapapun itu, suami atau istri yang menuntut perceraian adalah orang yang tidak bertanggung jawab atas komitmen yang telah dia buat.. adalah orang yang tidak menghormati pasangannya dan apabila sudah memiliki keturunan, dia juga orang yang tidak menghormati dan menghargai keturunannya sendiri.

    • pertanyaan selanjutnya goes apakah setiap anak laki-laki dr keluarga broken home berpeluang besar gagal membina rumah tangga?

      • contohnya saya,,,

      • *nyamber*
        Tadinya aku pengen ortuku pisah lho krn kdrt, tp mamaku pertahanin abis-abisan… ternyata sekarang udah baik-baik aja…
        Aku juga ada contoh temenku yang ortunya divorce, eh kakaknya juga divorce juga & udah nikah untuk ke3 kalinya.. skrg temenku takut sm pernikahan…

      • aku crita ini bukan berarti bangga lho..😦

      • Dari kalimatnya gak menunjukkan bangga kok dek..

      • oke, thanks kakaakk..

  3. Setuju sama mbak Ely, karena tidak mendengar cerita dari dua belah pihak jadi nggak berani berkomentar lebih jauh. Mudah-mudahan ini adalah keputusan yang terbaik bagi dua belah pihak. Sang mantan istri bisa mendapatkan suami yang terbaik nantinya. Demikian pula sang mantan suami, mendapatkan kebahagiaan yang dicari.🙂

  4. Tak ada suami “hebat” di dunia ini tanpa kehadiran wanita “luar biasa” di belakangnya.

  5. sesuatu yang halal tapi di benci oleh Allah, perceraian apapun alasannya aku tidak setuju

  6. yah… mungkin bercerai lebih baik, daripada bersatu tapi banyak terjadi ketidakcocokan. Mungkin si suami itu memang bukan jodohnya. Semoga wanita itu segera menemukan jodoh yang lebih baik lagi

  7. Menurut saya pihak istri sama sekali tidak salah Bu Min. Kejadian perselingkuhan yang berujung pada perceraian seringkali menempatkan wanita yang seharusnya jadi korban sebagai pihak penyebabnya. Padahal menurut saya itu sepenuhnya salah pihak laki-laki yang tidak punya cukup rasa syukur, ato bahkan tidak punya cukup keberanian menyambut kebahagiaan hidup bareng keluarganya yang sudah sempurna.

  8. saya jawab pertanyaanya saja….
    bagi saya pribadi “tidak”…. malah bersyukur punya istri yg baik, patuh, dan slalu ingin membahagiakan….

  9. nggak ngarti hehe….. *blm jadi orang tua*

  10. Menurut saya sih, istri yg baik itu seharusnya mendapatkan suami yg baik.. jika begitu keputusannya,maka si suami itu tidak baik lagi baginya.. mungkin cara pandangnya seperti itu ya dlm cobaan ini..

  11. Ikut prihatin dengan yang menimpa temen Mbak Min..cuma kita tidak tahu apa yg terjadi sebenarnya…mudah2an itu langkah yg terbaik🙂

    Pernikahan itu memang ujian rumit dalam hidup ya…mudah2an kita bisa lulus dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: