Skip to content

Akang Jangan Mudah Ganti Baju

12 November 2012

Akang masihkah kau ingat saat pertama kali datang ke rumah adek. Engkau mengebu- gebu dan penuh kesungguhan sekaligus keberanian menemui camer, calon mertua. Dengan keberanian kamu inilah yang menjadikan orang tua aku memantapkan hati untuk menerima kamu sebagai suami. Tentu engkau masih ingat kan Kang tentang ini?

Engkau tentunya sudah sadar tentang arti sebuah nikah. Nikah adalah sebuah perjalanan panjang memikul tanggung jawab. Yang mana tanggung jawab ini sebelumnya dipikul oleh ayah ku. Mau tidak mau kau harus memikulnya. Waktunya pun tidak satu atau dua tahun tapi seumur masa kita hidup.

Nikah juga tidak kau impikan hanya  menemui sejuta keindahan hidup melainkan sejuta masalah kehidupan. Semakin usia ke sini semakin kompleks. Bertambahnya anggota akan mendatangkan peran baru. Atau pun belum datang-datang juga buah hati yang kau impi-impikan akan menggodamu untuk berandai-andai. Ini pun akan menjada masalah sendiri.

Aku paham perjalanan panjang memikul tanggung jawab membuatmu sampai pada titik jenuh, bosan. Boleh kau bosan padaku. Namun yang ku minta secepatnya lah  berpaling lagi kepada ku, jangan kau palingkan pandangan mu kepada yang lain. Lalu Kau ambil pakaian lain lagi. Jangan ya Kang toh nantinya nasibnya sama saja pakaian itu. Bila kau berpandangan keliru tentang nikah.

Nikah bagi kita adalah penggenapan dari setengah dien/agama kita. Ini artinya dalam nikah kita akan memproses diri untuk menuju kedewasaan kita. Dengan nikahlah pontensi-potensi kebaikan kita akan dimunculkan Allah lewat kekurangan yang dimiliki oleh pasangan kita. Maka jangan khawatir dalam membangun pernikahan kita menemui kerumitan-kerumitan. Janganlah bosan apabila kita menemui masalah yang sama dan sama dalam jeda yang lumayan rapat. Ini bertanda bahwa kita belum lulus ujian pada masalah itu.

Aku mohon sekali lagi ya Kang bila kau ada keinginan untuk mengganti baju dengan baju baru. Maksud ku istri baru. Ingatlah saja pertama kali kau datangi ayah ku.

Kawan bagaimanah Anda memandang arti sebuah pernikahan? Sehingga ini menjadi masukan bagi saya dan pembaca untuk menjadi masukan bila mengalami hubungan rumit dalam pernikahan.

 

From → coretanku, nasihat

45 Komentar
  1. semoga akang bukan bang toyyib

  2. Nikah bagi kita adalah penggenapan dari setengah dien/agama kita., ini yang harus diingat ingat ya bu

  3. trims bu min….

  4. Setuju Bu Min, hendaknya para lelaki ingat masa-masa mendatangi rumah istrinya untuk melamar dulu kalau berniat menikah lagi..

    • makasih Dan semoga banyak lelaki bernostalgia awal melamar sehingga tidak mudah mempermainkan sebuah pernikahan

  5. Mudah-mudahan kita semua *yang sudah berumah tangga* dijauhkan dari cobaan seperti itu ya Bu Min, aamiin…🙂

  6. kalo saya mbak Min, sebelum menikah sudah di tanamkan dalam hati, menikah cukup sekali saja… setelah menikan masalah pasti ada, berusaha berkomunikasi jalan yg di tempuh…

  7. saya belum nikah mbak😦😛

  8. Sabar, ikhtiar dan berdoa, mungkin itu yg bisa dilakukan mbak min sekarang ini

  9. keduanya harus bisa bersabar dan menahan diri, semua bisa diperbaiki kok

  10. jatuh cinta yang dilanjutkan dengan senantiasa saling membangun cinta ya Jeng. salam

  11. Buat saya, pernikahan itu diniatkan untuk ibadah, untuk lebih terhindar dari dosa bukan semata-mata hanya nafsu yang menjadi landasan utamanya. Masalah itu pasti ada, tinggal bagaimana penyikapan antara keduanya. Kata “iya, saya menerima” berarti siap menerima segala bentuk dosa yang dulunya ditanggung oleh ayah ibunya, karena apa yang dilakukannya juga sudah menjadi tanggung jawab suaminya kelak. Itu artinya, dari awalpun sudah harus memilah yang terbaik dari agamanya dan aspek lainnya, termasuk kesesuaian dari diri kita sendiri. Wallahu’alam mbak min. ^^

  12. Pernikahan sejatinya hingga akhir hayat… Masalah pasti selalu datang Mbak Min… Menikah itu seni bersabar, sulit, namun di sini letak perjuangannya…

  13. Aduh gak kepikir gimana solusinys jika akang dirumah pengen ganti baju. Mestinya ada komitmen dr si akang bahwa cinta jangan menduakan, saya ajan sakit hati dan wanita yg sakit hati kurang baik bagi perkembangan emosi anak si akang🙂

    • betul mbak evi, anaklah yang jadi korban paling berat. dan ini ada kisah yg baru masuk lagi ttg karamnya rumah tanggah.

  14. Miris bacanya. Memang seharusnya sebelum menjalani hidup pernikahan harus dipikir panjang, karena menikah berarti berbagi kesenangan dan kesusahan bersama.

  15. klo ada konflik dgn bj, sya slalu mncoba utk mningat2 msa pd saat dmn sya prtama mngenalnya…

  16. akang belum kena batunya mungkin jadi masih pengen ‘coba-coba’.

  17. Sebuah baju yang dirawat dengan sebaik-baiknya akan memancarkan keindahan pemakainya, jangan gampang ingin menggantinya jika hanya rusak sedikit, terkadang pemakainya sendiri yang membuatnya rusak.

  18. Bang Uddin permalink

    Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata “…maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya”.

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

  19. yuk kita pahami hadits dengan benar. bahwa menikah adalah kelanjutan keshalihan secara individu menuju kesahalihan secara sosial/jamaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: