Skip to content

Cerita Wanita Idaman

14 November 2012

Inilah kisahmu yang baru kemarin aku tulis dalam satu paragraf dalam postingan berkatagori kataku, “Darah dan Air mata Wanita”. Aku kira kau bukanlah wanita bodoh. Karena dia adalah laki-laki berselera tinggi mana mungkin ia main-main dalam menentukan standar kekasih yang nantinya ia jadikan istri, ibu dari anak-anaknya. Menurut ukuran kesempurnaan lazimnya laki-laki perlente, “ cantik sekaligus pintar”. Namun kenapa engkau tidak  gunakan kecerdasanmu untuk menentukan sikap?

Engkau tidak bisa sekedar mengatakan, “ Sakit Bang hati ini”. Layaknya kau seperti boneka saja. Jadi barang mainan saja.Menyenangkan pemiliknya semau dia karena ia sudah membelinya. Bagaimana tidak,  kau dituntut ceria di hadapan suamimu meskipun hatimu menagis darah. Ya, menangis darah. Kau baru menangis setelah berpaling dalam pandangannya. Kau harus menahan tangis saat-saat harus menemaninya keliling-keling toko untuk memilihkan hadiah buat WIL suamimu. Memilihkan baju baru yang akan dikenakan saat berhari libur dengan kekasih barunya.

Diam membisu bila suamimu mengatakan akan bertemu dengan kekasih gelapnya. Ups oh tidak ia bukan kekasih gelapnya. Karena pikiranmu dan pikiran suamimu, kekasih gelap itu kan kalau melakukan secara sembunyi-sembunyi. Lha ini penuh dengan keterus terangan je! Maka kau pun berkata kepadaku semua ini kau lakukan untuk mencari rindho Allah? What? Oh auh, yang menjadi saya tambah heran katanya sih katanya suaminya ingin menyelamatkan aqidah kekasihnya. Sebab kekasihnya bersuami orang beragama selain Islam dan sekarang sedang mengandung delapan bulan.

Oh , Allah atas dasar rindho Allah dan ingin menyelamatkan aqidah si wanita idaman lain suamimu inikah yang membuat kau hanya bisa dan berani menangis di hadapanku saja. Mengapa jika kau tidak kuat melihat kelakuan suamimu tidak berani menentukan sikap? Kau mundur dari kehidupan suamimu? Atau bila kau kuat di madu mengapa tidak kau suruh suamimu menikah. Weduh  Mbak lupa? Ia kan masih istri orang? Ya ia pilih pacaran saja dulu. Dan ia bilang suaminya tidak mungkin memilih salah satu dari dua wanita. Dua wanita bagi suaminya sama-sama disayangi karena masing-masing punya kelebihan masing-masing. Wedeleh-deleh memang zaman sudah edan apa ya.

Duh Gusti, yuwon pangapuro, aku kok yo seng dadi sewot lan jengkel. Apakah sebegitukah parahnya penyimpangan sosial di zaman yang segalanya jadi bisa ringan dan mudah karena kemajuan IT. Apakah memang SMS itu kepanjangan Sihir Masa Sekarang. Dengan jampi-jampian sms bisa memporat paritkan tatanan keluarga. Memisahkan suami istri. Payahnya lagi kalau membelah-belah jiwa bersih sang anak-anak gara-gara anak-anak membaca sms si bapak karena alpa membawa HP ke kantor.

Bagaimanakah menurut Anda? Sehatkah mereka hidup di dalam keluarga semacam itu?

 

 

 

 

 

 

From → coretanku

31 Komentar
  1. Hmmmm………….. baca dan tertegun. Terlalu dalam makna hingga susah mengurai kata.

  2. mesti ada orang ketiga kyknya sebagai mediasi mbak min…. klo sehat nggak sehat, keluarga itu yg lebih tahu sepertinya🙂

  3. wadeww .. ngeri mbak, ruwet bgt, belum tahu mau berkomentar apa, aku nyimak saja dulu
    aku belum pernah punya Hp mbak, jd nggak ngeh soal sms an

  4. Jeng Min, aneka seri kehidupan ya, trima kasih berbagi permenungan mendampingi sahabat dalam seni bersikap. Salam

  5. selalu ada cerita yang tidak pernah terbayang sebelumnya.. but anyway TFS

  6. masuk ke dunia rumah tangga memang masuk ke dunia penuh konflik..

  7. argh, gila tu suami, alasan baik jgn di jadikan alasan untuk memulai sesuatu yg buruk

  8. ya bingung juga, atas ridho Allah ingin menyelamatkan akidah kekasihny dari suaminya yang bukan muslim; disini sepertinya suami juga benar, si suami berlindung dibalik pembenaran agama toh katanya hukum poligami juga halal. tapi yang membuat keberatan adalah agama seperti dipermainkan sedemikiam rupa oleh si suami tanpa peduli terhadap perasaan wanita, dilematis mbak.

  9. kmdhn tknologi bla tdk dsikapi scra bijak akan mnmbulkan ekses yg ckup serius ya…

  10. hmm.. ini kisah pilu..
    saya sungguh tidak ingin menjadi pelakunya

  11. menurut saya gak sehat mbak Min,,, kalo sehat kenapa dalam hatinya harus menagis darah…

  12. setuju dengan kangyaannn…bu

  13. Jelas tidak sehat Mbak, dalam rumah tangga dgn suasana seperti itu…

    Meski poligami itu diperbolehkan, dan biasanya dengan dalih agama, tapi menurutku perempuan itu harus punya sikap tegas, kalo memang gak mau berdarah – darah…percuma juga kalo mengharap ridho Illahi tapi batin sebenarnya teriksa bukan main.

    Masih banyak jalan lain meraih ridho Ilahi tanpa harus berdarah darah.

    • betul mbak lies, kita berhak menolak dan menerima bila diajak poligami seperti kala kita ditawari nikah. jangan sampai rumah tangga layaknya neraka dunia ya

  14. Ga shat Bu Min kalo menurut saya. Tapi kenapa tidak bisa melihatnya ya orang yang ada di sana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: