Skip to content

MENULIS CERITA PENDEK

27 November 2012

MENULIS CERITA PENDEK

Pembelajaran kali ini adalah menulis cerpen. Untuk latihan menulis cerpen di kelas putri setelah bertanya jawab tidak ada masalah. Meski awalnya ada kesalahpahaman tentang ide yang berangkat dari pengalaman sehari-hari. Namun pada pembelajaran di kelas putra huah agak ribet. Mereka sangat ogah-ogahan menulis. Dan sempat geli juga ketika ada salah satu siswa laki-laki meski belum paham betul ia semangat mencoba.

Ia datangi mejaku untuk minta penjelasan secara individu. Aku sarankan untuk membuat kerangka ceritanya dulu sebab ini baru latihan kecuali bagi cerpenis yang sudah mahir menulis kerangka ceritanya tidak usah ditulis. Cukup di memori, otaknya. Ia mangut-mangut  sebuah tanda bahwa ia faham. Kembalilah ia ke bangkau.

Namun begitu cerpen ku minta dikumpulkan hualah yang dikumpulkan hanya kerangkanya saja. Ku jelaskan sekali lagi dan kertasnya kukembalikan untuk pertemuan yang akan datang dilanjutkan. Dan  saat mengumpulkan dia hanya mengembangkan menjadi cerita yang sangat, sangat pendek. Yo wis lah . kuhargai keinginannya saja untuk menulis. Meski cerpen itu cerita pendek namun tidak sependek yang ia buat. Hanya setengah halaman buku tulis.

Cerita pendek atau disingkat cerpen adalah kisah yang bersifat naratif dan imajinatif dengan ditulis secara pendek atau singkat. Pendek karangan antara 500 sampai 10.000 kata, hanya memberikan kesan tunggal yang dominan, dan hanya berisi satu ide terpusat pada satu tokoh dalam satu situasi atau satu kejadian.

Tujuan menulis cerpen adalah untuk mengabadikan pengalaman, mencurahkan perasaan dan pikiran, serta mencurahkan persoalan hidup yang dialami umat manusia seperti persoalan 1) maut 2) tragedi 3) cinta 4) harapan dll

Syarat-syarat cerpen:

  1. Cerita itu pendek antara 500 sampai 10.000 kata
  2. Bersifat naratif
  3. Fiktif/rekaan

Teknik menulis cerpen dapat dimulai ide atau ilham, dari ilham ini diolah seperti yang dilakukan Kuntowijoyo menulis cerpen yaitu menstruklalisasi 1)  pengalaman  2) imajinasi 3) nilai 4) tokoh. Keempat hal ini harus dirangkai menjadi bangunan cerita pendek yang utuh, terpadu, dan selaras.

Inilah salah satu cerpen yang dibuat oleh siswaku, Asmi Azizah

Sisi Lain Friska

“Hei Friska, kau tidak lapar? Mau ke kantin bersamaku?” Tawar Amira. Ia baru saja turun dari kelasnya dan segera menghampiri Friska yang sedang duduk di taman sekolah, membaca buku dengan santainya.

Friska hanya mendengus mendengar suara yang seminggu ini telah mengusik kehidupannya. Suara milik Amira, murid baru yang menjadi teman sekelasnya sekaligus teman sekamarnya di asrama sejak kedatangannya seminggu yang lalu. Biasanya orang lain akan menjauh dan tidak berusaha mendekati Friska ketika mengenalnya, karena dirinya yang misterius, tidak banyak bicara, sering menyendiri, dan terkesan cuek dengan sekitarnya. Tapi tidak dengan Amira, dia bahkan seakan  menempel terus dengan Friska meski sering dihiraukan.

“Baiklah jika kau  tak  mau. Aah, apakah kau tahu pengumuman pagi ini?” tanya Amira seraya menjatuhkan dirinya di samping Friska.

“Tidak,” Friska tetap melanjutkan kegiatannya membaca buku.

“Huh, kau pasti belum melihat papan pengumuman. Kerjaanmu itu selalu membaca buku, seperti tidak ada hal seru lainnya saja,” ujar Amira mencibir.

“Memangnya ada apa?” mau tak mau kali ini Friska menolehkan kepalanya, tetap dengan wajah datar tanpa ekspresinya.

“Sekolah akan diliburkan selama tiga hari karena beberapa guru mengikuti study tour. Pasti menyenangkan jika menghabiskan hari libur di asrama,” mata Amira menerawang dan tersenyum membayangkan apa yang akan dilakukannya.

“Biasa saja,” timpal Friska.

“Memangnya apa yang tidak biasa saja untukmu, hah?” cibir Amira, “Hemm, besok aku akan berkenalan dengan semua anak di asrama” lanjutnya.

#   #   #

Angin sore berhembus ringan di halaman belakang asrama, udara yang hangat menyelimuti bangunan bertingkat dua ini. Amira sedang menemani Rosa menyiram tanaman sambil bercengkrama dan tertawa ringan sampai terdengar suara yang membuat mereka menoleh.

“Rosa, kau diminta Bunda Zulfa ke ruangannya,”

“Baiklah, aku akan segera ke sana,” kata Rosa sambil berjalan. Amira segera menghentikan langkah Rosa yang akan menutup kran, kemudian menarik selang yang berada di tangan Rosa.

“Biar aku yang lanjutkan, oke?” Rosa hanya mengangguk dan segera pergi. Amira menikmati kegiatannya, tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya saat melihat Friska sedang membaca buku di bangku dekat kolam ikan. Amira tersenyum dan memulai aksinya.

“Apa ini?!” teriak Friska spontan mengetahui tubuhnya basah terguyur. Ia berdiri dan menoleh kesal mendengar tawa Amira yang terbahak-bahak.

“Hahaha, lucu sekali tampangmu jika sedang kesal. Kau pasti belum mandi, kan? Apa kau tidak malu dengan ikan-ikan di depanmu itu?”

“Kau!!” Friska  berjalan cepat mengambil alih selang itu kemudian mengarahkannya ke tubuh Amira. Tidak menghentikan kegiatannya walaupun Amira terus berteriak memintanya berhenti. Ia sedikittersenyum melihat keadaan Amira akhirnya lebih parah darinya.

“Keributan apa itu?” suara Bunda Zulfa membuat keduanya terkejut yang segera menutup kran dan berlari secepatnya menuju kamar mandi di samping halaman, menjadikannya tempat untuk bersembunyi sampai Bunda Zulfa tidak terlihat lagi.

Setelah beliau pergi, Amira mematung di tempatnya berdiri saat mendengar tawa kecil dari bibir Friska, tawa yang begitu lepas dan ringan. Amira pun ikut tertawa bersamanya setelah beberapa saat mematung. Ia senang dapat melihat tawa Friska yang tak pernah dilihatnya. Senang mengetahui Friska sekarang telah sering meresponnya. Melihat di awal pertemuan mereka Friska hanya diam dan selalu memandangnya dengan dingin. Friska tidak menutup-nutupi rasa tidak sukanya akan keberadaan Amira. Dia tidak suka sekamar dengannya, tidak suka kehidupan tenangnya diusik karena kehadiran Amira. Tapi Amira selalu berusaha agar Friska dapat menerimanya sebagai teman dengan berinteraksi sesering mungkin dengan Friska, tidak peduli walaupun sering dihiraukannya.

#   #   #

Hari ini adalah hari pertama libur. Seperti yang diucapkannya kemarin, Amira berkenalan dengan beberapa anak asrama yang belum dikenalnya. Amira dapat dengan mudah akrab dengan mereka karena dirinya tipe anak yang supel dan ramah.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti melihat Friska yang duduk bersandar pada sebuah pohon besar di belakang asrama. Memandang kosong kolam ikan di hadapannya, gurat sedih terpancar di wajahnya. Amira sudah beberapa kali melihat Friska dalam keadaan yang sama, tapi kali ini berbeda. Gurat sedih di wajah Friska semakin terasa, membuat siapa saja yang melihatnya dapat merasakan sedih dan perih yang ditahannya. Kepalanya menunduk. Hanya sebentar karena di detik berikutnya ia mendongak, menatap cerahnya langit pagi ini. Sedikit menarik ujung-ujung bibirnya ke belakang, membentuk senyum kecil. Kemudian memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Amira tahu Friska sedang berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia memutuskan tetap diam menatap sosok Friska yang sebenarnya rapuh tetapi selalu selalu menunjukkan dirinya baik-baik saja di hadapan semua orang. Setelah menghembuskan nafas panjang, Friska mengangkat tubuhnya pelan dan berbalik. Tapi langkahnya berhenti saat melihat Amira yang berdiri tak jauh darinya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Friska dengan  tatapan tajam.

“A..aku dari kamar mandi” jawab Amira gelagapan.

Friska tak mau ambil pusing. Ia kembali melangkah, berjalan melewati Amira dan menuju kamarnya. ‘Apa yang membuatmu sampai sesedih itu, Friska? Kau membutuhkan sandaran dan tempat berbagi. Kau tak akan sanggup menanggungnya sendiri,’ batin Amira menatap punggung Friska yang semakin menjauh.

#   #   #

Hari berikutnya, Amira meminta ayahnya membawakan barang-barang yang dibutuhkannya ke asrama. Ia sedang merapikan kasurnya ketika  pintu kamarnya dan Friska itu terbuka.

“Amira, ayahmu ada di bawah.”

“Oke, terimakasih Ros.” Amira menghentikan kegiatannya. “Friska, aku ke bawah dulu ya!” lanjutnya semangat keluar kamar dan menuruni tangga.

Friska berjalan mendekati jendela kamar, lalu menatap ke bawah. Pemandangan yang didapatnya adalah Amira yang menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Senyum lebar merekah di bibir keduanya, memancarkan kebahagiaan dan kehangatan.

Tubuh Friska bergetar. Ingatannya melayang ke masa lalu dimana ia masih berumur 6 tahun dan sedang mengejar sebuah balon yang terlepas dari tangan kecilnya, tanpa mengetahui jika ada mobil yang melesat dari arah kanannya. Yang berikutnya ia rasakan adalah dekapan hangat dan guncangan yang dahsyat. Ketika mendengar riuh di sekelilingnya, ia pun memberanikan diri membuka matanya perlahan. Melihat siapakah pemilik tangan besar yang mendekap tubuh mungilnya, lalu menatap wajah milik ayahnya yang teraliri darah pekat dan mata teduhnya yang tertutup rapat. Meninggalkannya seorang diri, membuatnya kembali kehilangan orang yang dicintainya setelah ibunya yang dulu merelakan nyawa demi melahirkannya. Friska kecil hanya bisa menangis takut dan berteriak memanggil ayahnya, berharap ayahnya kembali bangun dan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Friska kemudian tinggal dan dibesarkan di rumah bibinya, satu-satunya keluarga yang tersisa. Hidupnya berubah. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi ceria. Ia sangat membenci dirinya sendiri, menganggap dirinyalah penyebab kematian kedua orang tuanya. Terus terpuruk menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya.

Tubuh Frisa merosot dan akhirnya terduduk di lantai kamarnya. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya, berharap ingatan yang selalu menghantuinya itu pergi. Kepalanya seakan tertusuk ribuan jarum, nafasnya terengah, matanya memanas. Tak menyadari bulir-bulir air matanya mulai mengalir. Tangannya bergerak menuju laci di meja sampingnya. Mengambil selembar foto yang selama ini dihindarinya, karena selalu membuatnya kembali merasa bersalah ketika menatap wajah teduh yang tersenyum di foto itu. Wajah ayahnya yang tengah memangku Friska kecil berumur empat tahun. Tangisannya semakin menjadi-jadi, tapi ia tetap meredam isakannya agar tak terdengar oleh siapapun

Friska tak menyadari kedatangan Amira yang terkejut melihat kondisinya. Sedikit terkesiap sebelum akhirnya menarik tubuh Friska. Membawanya ke dalam pelukan hangat, “Menangislah, Friska. Kau tidak sendiri, aku tidak akan meninggalkanmu.” bisik Amira. Friska membalas pelukan Amira dan kembali menangis, menumpahkan semua kesedihannya selama ini. Amira sangat sedih mendengar tangis pilu Friska.

“Kau pasti bahagia memiliki keluarga yang menyanyangimu,” kata Friska pelan setelah melepaskan pelukannya.

“Aku memang bahagia. Dan akan terus bahagia sampai kapanpun walaupun keluargaku sudah tidak utuh.” Friska menoleh mendengarnya, menatap Amira yang juga tengah menatapnya.

“Ibuku sudah tidak ada sejak tiga tahun yang lalu, meninggal karena penyakit kanker. Aku sudah berjanji kepadanya tidak akan sedih lagi dan hidup bahagia bersama Ayah. Aku tidak ingin mengecewakannya jika aku selalu bersedih dan menangis karenanya. Mencoba percaya bahwa ini memang sudah menjadi takdirku. Karena Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melainkan dengan kesanggupannya, kan? Jadi, aku akan hidup bahagia dan terus berdo’a untuk ayah dan ibuku.” jelasnya sambil tersenyum.

“Kau juga pasti bisa, Friska” ucap Amira meyakinkan.

Friska termenung menatap selembar foto di tangannya. Merenungi kehidupannya selama ini, menyadari bahwa dirinya hanya membuat orang tuanya sedih. Tidak berusaha membuat mereka bahagia. Bahkan ia tak sanggup mengunjungi makam  mereka, terus menganggap dirinya pembawa kesialan bagi mereka. “Ah, betapa konyolnya diriku selama ini.” Dengan dua punggung tangannya, ia mengusap air mata yang tersisa. Pada kaca jendela ia memastikan tak ada sisa air mata.  Ia menghela nafas panjang. “hhuufff.”

“Kau benar. Terimakasih, Amira.” ucap Friska dengan memberikan senyum tulusnya kepada Amira. Amira terkejut senang mendengar ucapan dari bibir merah delima milik Friska. Wow hadiah pertama untuknya. Ya betul, hadiah pertama untuknya. Friska pertama kalinya mengucapkan terima kasih dan menyebut namanya, Amira.

“Itulah gunanya teman..” senyum Amira semakin lebar. “Kita berteman, oke?” lanjutnya sambil mengulurkan  tangan. Tanpa ragu Friska menyambutnya dan  mengangguk.

“Menghadapi hidup ini bersama-sama dan saling berbagi, setuju?”

“Hemm, baiklah..” Mereka pun tertawa bersama.

Menghadapi apapun jika berbagi dan bersama, sepertinya tidak akan terasa sulit, bukan?

Bagaimana menurut kalian apakah sudah memenuhi kriteria sebagai cerpen?

From → pembelajaranku

33 Komentar
  1. salut, keren keren cerpenya…

    saya gak bisa bisa bikin cerpen mbak Min…

  2. Saya gak bisa buat cerpen, tapi pingin bisa. gimana ya ?

  3. siswinya saja bisa buat cerpen semacam ini bagaimana dengan bu gurunya ya?

    • gurunya suka ngedit dan memoles saja. suka yang nonfiksi bu gurunya. hanya saja dituntut untuk memberi pembelajaran.

  4. heheeee…
    luctyuuu nya yang anak lelaki buat cepen super pendek itu mbak mint:mrgreen:
    Emmmm.. suatu saat kayaknya saya akan merambah kesitu mbak..
    entah kapan, tapi untuk saat ini belum tauu. heheee
    mbak mint guru yak?

    • betul ul. guru BI. mau tidak mau ngajar sastra juga meski kadang keserang mendadak malu kala baca puisi di depan kelas

  5. kalau bercerita masalah anak kita dalam bentuk tulisan hanya mengulas fakta fakta yang benar benar terjadi ya kita sebut nonfiksi.

    pengalaman mengasuh anak bisa kita jadikan ide menulis cerpen. dan akan disebut cerpen kalau itu kita olah hanya sebagai rekaan saja. syaratnya sperti yg saya tulis sekilas pada postingan di atas mbang.

  6. itu siswa nya kelas berapa mbak, udah bisa bikin cerpen sebagus itu..
    aku aja kalo bikin cerpen sering buntu ditengah jalan,,,kalau lanjutpun jalannya ntah kemana2..
    tapi kalo bikin cerpennya dari pengalam pribadi mungkin lebih gampang🙂

  7. Kelingan jaman diulang Bu Farid…😀

  8. wah .. belum bisa menjawab mbak, karena belum punya pengalaman nulis cerpen

  9. resep bener saya bacanya mbak min, yang pas di kamar mandi sama ayahnya amira datang ke asrama, bikin esmosi juga saya bacanya….🙂

  10. kalo dikirim ke koran lokal dan dimuat bisa dapat duit

  11. salut sama Bu Mint yang mengajarkan cara-cara menulis cerpen dan sepertinya sudah nampak hasilnya, saya akhir-akhir ini tak menghasilkan karya apapun dalam bentuk fiksi, mentok pada rutinitas sekolah

  12. bagus mba..
    saya ga bisa bikin ginian.. biasa curcol🙂

  13. Bagus sih, cuma saya kok gak bisa bikin cerpen ya? kalo nyoba bikin jadinya aneh:mrgreen: salam kenal🙂

  14. Siswinya pinter ya Mbak…bagus cerpen nya…kalo jaman dulu bisa dikirim ke ANITA CEMERLANG dapet duit Rp. 25.000,- uhuuyyyy banget saat itu !

  15. Bagus kalau kata aku siy.. 😀

  16. cerpennya bagus …
    waktu membaca ikut terbawa emosinya juga … keren …

  17. biasanya kalo abis baca buku fiksi pasti dg sendirinya tangan kita yg akan menuntun hati buat bikin cerpen.ya kan mba min?😀

  18. alhamdulillah, berrtemu yang expert di dunia cerpen🙂
    trims infonya mbak, kebetulan saya sedang belajar menganggit cerpen dari nol.. hehe, .. *salam takzim*

  19. sudah bisa kali ya Bu didefinisikan sebagai cerpen. Hehehe. Kalo saya dulu suka ga nyambung antara paragraf satu dan yang lainnya pas bikin cerpen..

  20. bagus kok mbak..
    ternyata mbak Mintarsih ini pengajar tho.. saya bisa belajar bikin cerpen dong mbak😀

    saya juga lemah kalau bikin cerpan yang agak panjang suka ngelantur kemana-mana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: