Skip to content

Belenggu Pena

1 Desember 2012

Seharusnya saat-saat menunggu siswa sedang mengerjakan soal UAS masa yang produktif untuk menulis. Sambil menyelam minum air. Menunggu tanpa kepastian kegiatan adalah sangat menjemukan. Betapa seharusnya aku bisa menulis apa saja. Keberadaanku sebagai pengawas akan berbeda saat aku sebagai guru. Namun sayang, aku belum bisa melepaskan belenggu. Belenggu pena.

Ya, itu dia belenggu pena yang membuat aku tidak bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.  Masa-masa yang kutunggu sebagai jeda dalam kepenatan pembelajaran bersama siswaku. Seharusnya saat menunggu siswa mengerjakan soal UTS, saya juga bisa menulis. Menulis dengan pena dan kertas. Tidak harus menggunakan mesin ketik he he masa jadul. Moderen dikit ya laptop.

Andai belenggu ini bisa kulepas huah betapa nyamannya diriku dalam mengembangkan ketrampilan menulisku. Bebas bergerak tanpa petentang-petenteng bawa laptop menelorkan ide-ide panasku yang menggelora di otakku. Lama-lama bisa juga jadi penulis handal, kan. Ngayal dikitlah.

Tahun sembilan puluh tiga saya sudah mulai menulis. Gara-gara sungkan pinjam mesin ketik tetangga terus, aktivitas menulis aku hentikan. Padahal tiga artikel yang pertama aku buat bisa dimuat di majalah. Sungguh senang, bukan. Itu artinya tulisanku lumayan kan. Namun sayang seribu sayang diriku saat itu penulis tanpa modal maklumlah anak bu rondo. Hidup serba pas-pasan. Ibaratnya sudah jatuh ketimpa tangga. Sudah tahu anak bu rondo dadapan tanpa limpahan harta, he he menulis pake gaya anak orang kaya. Gak bisalah yaoooh nulis pakai tinta. Nulis itu harus pakai mesin ketik.

Dan parahnya belenggu menulis ini masih mengikat erat diriku. Sepertinya aku seperti gajah sirkus. Tahukan ceritanya gajah sirkus? Gajah yang berbadan gede tidak mau melepaskan diri dari ikatan tali yang ditancapkan pada sepasak kayu. Hayo padahal kan dengan belalainya ia mampu menjebol pohon. Namun kenapa ia tidak sanggup melepas seutas tali? Well itu lantaran kepercayaan yang ia dapatkan sewaktu masih kecil. Ketika masih kecil memang ia tak sanggup melepas tali karena ia masih bayi. Jelas ia tidak bertenaga. Lemah tidak bisa berjalan. Gagal. Dan gagal saat ia akan menghampiri induknya dengan ikatan tali pada kakinya. Saat itulah ia percaya, “Aku tak sanggup melepskan tali di kakiku.”

Begitulah diriku. Kuingat betul ketika aku masih duduk di bangkau SD, aku begitu sebal dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Bukan karena pelajaran itu sulit aku pahami, melainkan aku tidak mau menulis ulang lagi kalimat pertanyaan dalam buku paket sebelum menjawab soal. Pikirku buat apa mengulang lagi? Bikin capai tangan saja.

Ya aku tidak mau mengulang lagi kalimat soal bahasa Indonesia. Inilah yang mungkin membuat aku tidak bisa menulis artikel harus dengan pena. Sementara kalau mengirim artikel ke majalah harus diketik tidak boleh pakai tinta. Kepercayaan kecilku, “capai menulis ulang bo.” Jadilah aku mati kutu. Tak bisa menulis tanpa tak tik tuk tek…

Kawan kau bernasib denganku? Bagaimana cara mengatasinya?

From → kataku, nasihat

21 Komentar
  1. kalau sekarang gak usah pakai pena bu. kan sudah jamane laptop jadi tinggal ketik aja disitu sekaligus juga bisa disimpan kalau mau dikirimpun juga bisa, kalau dulu artikelnya sudah bisa dikirim di majalah saya yakin dengan kondisi sekarang lebih bisa lagi, tetap semangat ya bu…

  2. samaaa mbak mintt.. saya dulu paling sebal pelajaran bahasa Indonesia yang suruh baca puisi dan Maen drama..

  3. Wow….. luar biasa, sudah mulai menulis tahun ’93. Konsistensinya luar biasa….. Saluuut.

  4. berhenti lama, baru kenal blog nulis lagi

  5. Wah, baru tau ada yg beginian Mbak, maksudnya menulisnya afdhol pake tak tuk tak tuk…
    saya sendiri masih suka nulis pakai pena….

    Semoga cepet ketemu solusinya ya Mbak…🙂

  6. sudah lama juga ga nulis pake pena … entah gimana model tulisan saya sekarang😀

  7. Sama Mbak, aku tak pernah menulis dengan kertas dan tinta. Kecuali membuat catatan kecill mengingat point2 tertentu sebelum menulis.Kalau menjabarkan ya mesti nunggu komputer hehehe..

    • sama donk dgku mbak evi. tpi mbak evi lumayan masi bisa nulis garis besarnya saja. klo saya sama sklai. selulau gagal klo kucoba

  8. pemikiran masa kecil benar-benar bisa berpengaruh ya Bu Min.
    Saya sendiri kalo pelajaran Bahasa dan megarang dulu senang sekali malah Bu. Atau menjawab soal dengan menulis ulang. Saya suka lihat buku atau lembar jawaban yang penuh..😀

  9. Aku malah senang menulis dari dulu Mbak..maksutku bukan nulis cerita , tapi nulis pelajaran, nulis diary ato surat kepada sahabat, sekarang kadang2 aku kangen dengan tulisan tangan para sahabat, yang menurutku masing2 pribadi tu unik…🙂

    kalo sekarang kan tulisanya seragam, tinggal milih font beres deh ! ga personal touch ! halah bosone kui lho ah ! pokoke ngunuw lah mbak…hehehe

    • dari tulisan kita jug bisa menebak siswa kita mengerjakan pr hasil sendiri ato nyntek mbak lis.

  10. Hahaha.., khayalanya yahut banget itu Mbak..:mrgreen:

    Jangankan menulis pake pena Mbak.., pegang penanya saja saya sudah jarang..hehehe..

    Sekarangpun juga banyak aturan mbak.., mesti berjumplah sekian karakter, ditulis dengan huruf ini, dengan ukuran kertas sekian dan sertakan ini-itu..,halah..enakan nulis pada blog sajalah.., ndak ribet..hahaha..😆

  11. hehe memang kadang ide munculnya bisa di mana saja, bisa jadi pas lagi jaga uas tersebut. nah kalau misal ide datang sedangkan mbak Min males nulis di kertas, bisa2 idenya melayang dong hehe.. kalau gitu biar nggak berat bawa laptop, ya pakai tablet aja mbak, lebih enak dibawa kemana-mana dan acara tulis menulis pun lancar😀

    • itu dia Ne masalahnya gak enak dg siswa. malah klo UN gak boleh bawa yg gituan padahal daripda duduk nganggur kan enak klo bisa nulis dg pena d kertas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: