Skip to content

Kecil-kecil Suka Bisnis

2 Desember 2012

Kecil -kecil Suka Bisnis

Bermula dari membeli ketepel di ma  Kecil-kecil drasah TPQ yang tidak memuaskan. Maklum harganya yang Cuma Rp1000,00, ya ada harga ada rupa. Begitu mau dipakai buat ngetepel malah putus bin rusak. Melihat kondisi  seperti itu sang ayah langsung beraksi untuk membuatkan. Tidak tanggung-tanggung sang ayah membuatkan tidak cukup satu malah empat.

Ya, memiliki ketepel sebanyak empat jiwa bisnisnya segera muncul meski ia masih umur tujuh tahun. Ia hitung rekapan beli pentil habis seribu, sementara gagang ketepel mengambil dari pohon sendiri maka ketepel ia jual seharga Rp 2000,00.

Sebetulnya tidak itu saja ia menjual barang. Ikan yang ada di kolam hasil membeli dari pasar ikan pun dijualnya bila ia sudah bosan. Meski kadang ambil untung dan ada yang tidak diambil untung. Burung dara pun tidak luput sasaran untuk ia tawarkan. Laris manis burung dara terjual semua yang tinggal tujuh ekor.

Saya tidak tahu bakat ini menurun dari siapa. Kalau dipikir-pikir dari ayah, tidak. Dari saya pun tidak. Hanya saja kalau diriku agak ada jiwa unuk menjual hasil karya namun untuk memasarkan aku tak mahir, hanya kalangan tertentu saja. Lha ini anak mampu memasarkan dari teman yang ia kenal ataupun tidak ia kenal.

Memang dibanding dengan ketiga kakaknya, ia paling suka main ke luar dengan teman sebaya sampai anak SMA. Dari sinilah ia manfaatkan pertemanannya untuk berbisnis. Ia paling royal untuk memberi dan berbagi kesenangan dari yang dimiliki. Ia ajak teman-temannya bersenang-senang untuk memancing meski resikonya ikan yang ada di kolam mati. Meskipun kami melarang-larang, ia tidak peduli. Ya ia tidak takut resiko.

Sifat tidak takut menanggung resikolah yang paling menonjol. Bila kami melarang pergi ke sawah untuk mencari ikan, ataupun mencari ikan di sungai  sendiri tak digubrisnya dengan berbagai alasan yang kami berikan. Melarang main umbul dengan memberi alasan yang logis. Bila main umbul taruhan itu tidak baik. Jika temannya kalah pasti sedih, sebaliknya kalau ia kalah ia sedih. Nasihat ini aku berikan pas dia kalah taruhan main umbul dia bersedih dan dia tidak mau pulang berdiri mojok di samping rumah.

Wuah ternyata rasa sedih itu hanya satu kali ia lewati. Begitu hari-hari selanjutnya menang kalah bermain umbul tidak menjadi soal. Tetap saja ia dengan senang hati menanggung resiko. Menanggung resiko bila ia minta uang jajan yang tidak saya kasih. Dasar anak kecil sudah punyajiwa bisnis tidak kehilangan akal kecilnya. Ia cari akal buat modal, datanglah ke rumah Simbahnya atau ke rumah bu De sekedar minta uang seribu. Dibelilah umbul lagi, bila menang di jual ke teman dengan harga miring karena kartu umbul sudah bekas. Mungkin dalam pikiran kecilnya untuk mengantisipasi bila ia kalah.

Semogalah jiwa kecil bisnisnya dapat berkembang sejalan ia membangun relasi pertemanannya. Bahwa dalam berteman dengan siapapun tidak berdampak buruk bagi perkembangan jiwa dan raganya Amin ya Rabbal Alamin.

From → coretanku

25 Komentar
  1. wah, siapa nih bu?
    Tolong dibaca sejenak ya bu?🙂

  2. kecil-kecil sudah pinter bisnis semoga saja besarnya jadi pengusaha ya bu.. tentunya pengusaha yang baik dalam hal segalanya, ikut bahagia membaca tulisan ini bu Min.

    • di tengah tengah kekhawatiran, si kecil yang suka bermain dg teman teman di kampung pak narno. semoga ia hanya mengambil kebaikankannya saja bila berteman ya pak narno

  3. membayangkan pasti banyak pengalaman seru yg telah dan akan dialami mbak

    • seru dan cemas bagi orang tua mbak el. punya anak yg aktif d kreatif. sangat cemas klo k sungai sendiri.

  4. Inspiring!
    Semoga kelak jadi bagian dari good entrepreneur di Indonesia. aamiin.

  5. jiwa entrepreneurship sejak dini itu bagus Bu Min… Susah loh kalo udah tua mah..

  6. Mbak Min, itu jiwanya persis sama Jagoan kecilku, aku juga kadang kaget dengan ide kecil yg menurutku ‘ajaib’ bagi anak seumur dia.

    Contohnya : bulan puasa taun lalu pas dia berumur 5 taun, sama Bapaknya dibelikan petasan cabe rawit satu bungkus yang lumayan banyak isinya. tanpa sepengetahuan kami, petasan kecil itu di bungkusin kecil2 berisi 5 biji petasan yg sbesar lidi , di jual sama temanya seharga 500 rupiah. jadi dia rela gak nyulut petasan yg penting dapet duit.

    trus ada lagi soal burung dara dia berikut sawanganya (semacam peluit ), dijual sama temanya dengan harga lebih tinggi dari harga pas dia dibeli dari pasar burung.

    Kami suka tertawa geli, tapi kadang haru juga dengan tingkah Adek yang kayak gitu Mbak…

  7. Sebenarnya jiwa kewirausahaan itu bisa diperkenalkan dan diajarkan semenjak balita.

  8. masih mikir gimana menumbuhkan jiwa wairausaha buat anak2ku

    • profesi kita turut mempengaruhi ya mbak ina. keluarga saya guru mbak jadi ke arah wirausaha k anak juga blm ke pikir.

  9. si bungsu ya mbak ?
    tandanya anak kreatif ituu, mudah b ergaul pula ya… semoga nanti jadi pebisnis handal

  10. Keren Bu Min, sebagai orang tua tinggal memberi panduan-panduan saja agar tidak melenceng ya Bu.

  11. bisa jadi dari kecil kelihatan tuh anaknya punya bakat bisnis hehe..
    asal apa-apa nggak di jual saja ya mbak😀

  12. wah hebat tuh, kudu didukung en dikembangkan🙂

  13. hebatt euy, maksudnya emaknya yg hebat, tahu aja kelakuan anaknya hehe….Dugaan saya, Mbak Min ini sepertinya menjaga semangat anaknya biar ga kendor…

  14. keren….
    sejak kecil udah suka berbisnis, moga aja di kemdian hari akan jadi pebisnis yang handal….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: