Skip to content

Sekolah Alam : Berguru pada Alam

3 Desember 2012

Sekolah Alam: Berguru pada Alam

Sesungguhnya saya sangat beruntung hidup ditempatkan di keluarga petani. Meskipun masa itu sangat menyebalkan. Saat teman-teman masih enak-enak bercengkrama dengan bantalnya.Saya malah ada di sawah ditemani embun pagi. Berjalan ke sana kemari di atas pematang sawah. Tubuh gatal-gatal sebab melewati pematang yang kanan kiri menyerempet dedaunan padi.

Pagi-pagi benar harus menunggui padi yang mulai mengeluarkan bulir-bulirnya sampai padi menguning agar tidak dimakan si pipit. Pada siang hari juga begitu. Teriak-teriak, “hus yah hus syah”. Tangan menarik-narik tali rafia. Tali rafia yang dibentangkan dari ujung timur ke barat, utara ke selatan yang diganduli kaleng susu berisi kerikil. Riuh rendah suaranya akibat tarikan tangan mungil saya. Ya tangan mungil saya karena waktu itu masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Akibat ulah tangan saya si pipit yang sudah hinggap jadi terbang, sedang yang akan hinggap pun terbang juga.

Pemandangan yang sangat indah ketika si pipit terbang dengan iringan musik kloneng kaleng yang terpasang pada tali rafia. Ini menjadi hiburan buat saya di tengah hamparan rumpunan padi. Karena yang mengusir bukan saya saja tetapi para bapak dan ibu tani,” Klenteng, klenteng. Hus yah hus syah.” Sahut-sahutan. Riuh pooool deh.

Mengingat masa-masa kecil saya sebagai anak petani bukan hal yang patut saya sesali. Malah menjadikan saya beruntung. Beruntung karena mendapatkan pendidikan yang untuk ukuran sekarang sangat mahal dan bergengsi. Sekolah alam. Sekolah Alam yang digagas oleh para praktisi pendidikan yang membutuhkan biaya yang  tidak sedikit. Alias mahal boo.

Bagaimana para praktisi pendidikan menggagas sekolah alam diperuntukan kepada siswa agar mencintai alam. Membentuk karakter yang sabar, lembut, welas asih. Pribadi yang tidak suka bersaing namun suka berlomba-lomba untuk kebaikan, yang ada suka bekerja keras. Dan ini saya dapatkan dari Bapak dan Ibu saya tanpa biaya mahal seperti sekarang ini. Dan saya tidak bisa memberikan itu semua kepada anak-anak saya.

Anak saya hanya mencicipi saja dari sekolah alam. Pagi-pagi sebelum sang ayah pergi ke sekolah kami sempatkan mengajak jalan-jalan di atas pematang. Mencari belalang, katak, atau keong. Setelah usia masuk sekolah dasar aktivitas jalan-jalan ke sawah sudah terhenti, alias ia sudah lulus menyicipi sekolah alam.

Meskipun sekedar menyicipi. Setidak-tidaknya ia pernah merasakan bergelut dengan alam. Dengan demikian, potensi kebaikan yang dimiliki anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik. Harapan saya suatu masa nanti ia akan membuka memorinya ketika ia makan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya. Betapa apa yang terhidang adalah hasil jerih payah dari orang yang tidak banyak diperhitungkan, petani. Tidak menjadikan ia tumbuh sebagai pribadi yang pongah.

Dan maafkanlah ayah ibumu Nak karena tak bisa memberikan apa yang diberikan oleh kakek nenekmu. Sekolah Alam dan alam takambang jadi guru.

 

From → coretanku

17 Komentar
  1. banyak ilmu yang didapatkan dari alam ya bu… semoga harapan ibu segera terwujud..

  2. Beruntung sekali mbak anak anak jaman sekarang yg masih bisa menikmati dan mencicipi sekolah dari alam

  3. iya, ‘heurin ku tangtung’ kata orang jawa barat (disesaki manusia). ayo bikin sekolah alam… rasakan enaknya mandi di pancuran atau di kali jernih, tinggal di gubuk mendengar gemerciknya air sungai, suara cengkerik dan kodok, alam jadi “mahal”, sawah berganti jadi rumah dan jalan, outbound jadi wisata.

  4. saya sendiri (apa mungkin karena sudah mendapatkan segalanya dengan instan) sama sekali tidak pernah menyembelih ayam..

    *aaduh!

  5. sekolah alam bukan saja di sawah ya mbak, bisa juga di bawa ke pantai, atau kemping dan hiking dll..

    saya sering lewat sawah dulu, main2 juga.. tapi nggak pernah mengalami menjaga padi dari burung2.. beruntung dong mbak bisa merasakannya😀

  6. sekolah alam di pinggir kali ciliwung saya pikir bisa juga.

  7. maen kesawah, wah masa” indah saya ntu mah hahaha…. saban hari kesawah, maen layangan, nyari lindung, maen bola, ampe naek kebo, seru dah pokoknya….
    Kita beruntung ya mbak min, bisa ngerasain maen kesawah…. klo skrg, maennya ngeblog hahaha

  8. saya juga anak seorang petani,,,, jeda waktu di rumah pasti ke sawah atau ke kebun…

  9. saya senang kalau bisa jalan-jalan di antara sawah-sawah yg terbentang luas … rasanya damai …

  10. Alam pun banyak memberikan pelajaran pada kita. Termasuk ketika alam di rusak maka ia akan memberikan pelajaran kepada manusia.

  11. Sepakat dengan bahwa mengenal alam akan membentuk karakter yang sabar, lembut, welas asih. Di sekolah anak saya juga sedang mencanangkan Green School

  12. Saya melihat sekolah alam sebagai kerinduan mereka terhadap suasana dulu yang masih alami tanpa sentuhan tangan-tangan jahil. Seperti restoran sawah itu juga malah laris, padahal kalo malam hari cuma pakai thinthir dan banyak serangga sawah beterbangan…

  13. Mengusir burung pipit pakai boneka manusia yg ditarik dari pondok juga ya, mbak Min🙂

  14. Sekolah alam dengan guru luar biasa, biaya SKS gratis, materi pembelajaran apapun minat kita. Selamat belajar dan mengajar bersama alam Jeng. Salam

  15. kata2 “alam takambang jadi guru” itu sering saya dengar di pepatah minang mbak..
    dari alam kita memang bisa belajr banyak hal mbak yang mungkin tidak bisa kita dapati ketika duduk dalam ruangan kelas🙂

  16. Ibu dan Ayah saya juga dari keluarga petani. Hidup dengan kondisi yang pas-pasan membuat beliau berdua memiliki mental yang sangat kuat.
    “Alhamdulillah keadaaanmu sekarang ini jauh lebih baik dari Ibu dulu, Nak..” kata Ibuku dalam setiap pesan beliau saat menyemangati saya..

  17. alhamdulillah anak2ku masih bisa sekolah dengan alam Mbak Min…# untungnya tinggal di desa..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: