Skip to content

Tanpa Sabar apa jadinya Aku, Ibu

29 Desember 2012

Tanpa Sabar apa jadinya Aku, Ibu

Tidak terasa sudah tujuh belas tahun aku dipanggil ibu. Ibu bagi anak-anakku. Hems tidak pernah ku lupa saat genting, mau tidak mau dengan nafas-nafas tersisa aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melahirkan buah hatiku. Betapa lega aku setelah dia lahir, ah beginikah perjuangan ibuku dulu. Malah lebih berat lagi. Karena dulu ibuku hanya didampingi dukun beranak. Tentunya peralatan melahirkan tidak sebaik yang aku terima. Kata ibuku pisau untuk memotong ari-ari saja masih terbuat dari sayatan kulit bambu.

Ibu, pada akhirnya aku tahu arti kasih sayangmu. Kemarahanmu bukanlah sebenar marah. Bolehlah kata-katamu yang kau tujukan kepada anak-anakmu bernada tinggi. Atau tanganmu sedikit mencubit pantat anakmu. Gerutuanmu yang lebih banyak dibandingkan ayah. Ah ternyata itu semua kau lakukan hanya dipermukaan saja. Hatimu? Ya, hatimu tidak tersentuh rasa benci sedikitpun meski setipis debu, tidak ada.

Ibu, kau hanya mengenal cinta bila kau berhadapan dengan wajah-wajah anakmu. Meskipun anak-anakmu berulah. Kau hanya menyediakan energi yang besar, sabar. Sabarlah yang menuntunmu sehingga kau tidak kehabisan nafas. Kau masih kuat mendampingi anak-anakmu dengan sepenuh hatimu. Kecewa kah kau? Bila cintamu tak berbalas dari anak-anakmu. Tidak. Cintamu lah yang membimbing batinmu untuk selalu berkata,”Anakku suatu saat akan berubah.”

Ibu, harapan besarmu adalah kebahagiaan anak-anakmu. Siapa pun engkau ibu. Tidak perduli tamatan SD ataupun perguruan tinggi. Miskin kaya. Desa kota. Tidak ada perbedaan dalam hal ini. Keinginnanmu sama. Keinginan besarmu adalah kebahagiaan anak.

Dan ironisnya kadang kau harus bertabrakan pada anakmu yang kau cintai dengan sepenuh hati untuk cita-cita besarmu, kebahagian anak. Ah, kadangkala hati anakmu menafsirkan salah marahmu, cubitanmu, omelan panjangmu demi satu kata, bahagia. Tapi engkau, ibu. Memang hebat  kau redamkan gejolak ini dalam samudra hatimu. Apa jadinya anakmu bila tidak ada kesabaran darimu. Lebih-lebih apa jadiya engkau tanpa cinta dan sabar.

Layaklah engkau mendapatkan penghargaan dari Tuhanmu, Allah. Tiga tingkat dari ayah. Ibumu, ibumu, dan ibumu hendaklah engkau dahulukan dibanding ayahmu saat mereka memanggilmu. Karena ibu yang mengandungmu wahnan ala wahnin. Berat bertambah berat. Dan kami perintahkan kepada mansia agar berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-KU dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (Al Luqman: 14)

Selamat berjuang ibu, tanpa sabar apa jadinya aku juga engkau…

From → kataku, keikhlasan

26 Komentar
  1. Ibu memang orang yg paling mulia,

  2. emang iya bener… setelah jadi ibu, baru deh merasakan.. kenapa ibu itu paling bawel tapi paling dicari anak2nya hahahaha.. ooo… mom.. i love you🙂

  3. Aduh….. keyboard ini jadi basah oleh tetesan air mata.

    • cepat ambil lap pak nanti gak bisa buat nulis lagi keyboatnya

      • Sebelum basah kuyup, anak saya tiba tiba masuk. Harus segera tersenyum….. dan berkata, “bapak kliliben nduk”. Hehehe….

  4. jadi ingat mamah nih.. dan mungkinkah kelak saya bisa sessabar mamah saya? kadang mikir gitu juga mbak.. menadi ibu itu luar biasa kesabarannya ya..

    • betul sekali ne, harus berlimpah sabar. dan banyak cara yg harus kita tempuh untuk sampai pada kesabaran

  5. Apa jadinya kita tanpa kasih sayang ibu ya Mbak Min,,Garing banget hidup kali yah

  6. yang kurasakan mbak jika tidak sabar. mau jadi apa anak dan kita. cobalah dua balita didunuh dg menindih bantal? itu krn salah satunya krn ibu tidak sabar kalau buah hatinya sakit, sengsara.

    benar benar garing mbak evi, kesalahan anak itu seperti hasil akhir. padahal dr kesalahan ia bertumbuh menjadi anak baik.

  7. Setuju Bu Min🙂
    Banyak sekali jasa ibu dalam kehidupan kita, bagaimana beliau menanamkan hal-hal baik pada kepribadian kita.🙂

  8. Mensyukuri tujuh belas tahun selaku bunda nanda ya Jeng, keteladanan bunda selale menginspirasi. salam

  9. bahagianya jika dalam keluarga mempunyai ibu yang penyabar

  10. jadi inget alm. ibuku mbak

  11. wah udah 17 tahun punya anak?? duh larass kapan yah hehehehe…..salam kenal mba atau ibu yah enaknya hehehe

    • iya laras tak teras waktu begitu cepat. he he padahal sepertinnya saya masih anak kemarin sore ternyata dia sudah 17 tahun.

      senang juga kok dipanggil mbak, ibupun boleh pilih yg enak saja.

      • bunda asih yaahhhh hehehehehe makasih, salam kenal yah bundaaaa

      • iya iya dg senang hati dipanggil bunda. salam manis dari kudus.

      • oh kudus yah bun?? wah kangen soto kudu yg di dekat terminal haha tapi lupa sih, udah lama banget jaman smp dulu😀

  12. benar sekali bu Min apa yang njenengan sampaikan. Ibu memang makhluk paling mulia..🙂

  13. Terharu Mbak mIN..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: