Skip to content

Musibah Itu Guru Telaten

31 Desember 2012

Musibah Itu Guru Telaten

Kalau diingat-ingat dalam perjalan hidup ini kesuksesan selalu diawali dengan kesempitan. Orang menyebutnya dengan kesusahan atau musibah. Pengusaha sukses diawali dengan peristiwa jatuh bangun dalam mengembangkan usaha. Sampai-sampai harta warisan pun turut dijual untuk menutupi kerugian-kerugian yang dialami ketika usaha nyaris bangkrut. Pun dalam memapankan ekonomi keluarga tidak luput dari apa yang kita sebut dengan kesempintan atau musibah.

Bila keluarga Anda dalam kondisi seperti itu, masih jatuh bangun dalam membangun kemapanan ekonomi keluarga. Jangan sekali-kali mengumbar curhatan ke sana-sini. Mengapa? Sebab Anda tidak tahu respon apa yang akan diberikan dari orang yang Anda curhati. Alih-alih ingin memotivasi Anda malah mengendurkan semangat juang Anda.

Terkadang pada kondisi kesusahan-kesusahan yang Anda alami itu Anda bercerita kepada teman atau karib Anda hanya menginginkan dimengerti saja. Sementara orang lain tidak tahu keinginan Anda. Nah lho. Inginnya Anda dimegerti saja akan kondisi kesempitan sementara ia memberi rasa kasihan/iba. Padahal rasa iba ini yang paling tidak Anda inginkan. Benci gitu looh.

Dari respon kasihan ia sering memberi banyak bantuan ini itu karena ia begitu tidak tega melihat Anda dan keluarga Anda susah. Melihat anak Anda berbaju lusuh. Berbadan kurus. Makan dengan lahap yang jatuh pada penilaian rakus karena tidak pernah makan enak. Auh sangat tidak nyaman buat Anda.

Mendapat respon iba dari teman yang Anda curhati. Benar-benar membuat Anda tidak enak hati. Tidak nyaman. Ah batin Anda berkecamuk,”Oh Allah tidak. Tidak sikap ini yang aku maui. Aku hanya ingin dimengerti saja. Tidak lebih. Aku tidak ingin belas kasihannya.” Padahal semula niatan Anda curhat agar kondisi Anda nyaman dalam pergaulan pada perteman atau kekerabatan karena ada sikap saling mengerti akan kondisi Anda. He he pas ada hal hal yang membutuhkan fulus dari perteman/kerabat Anda, mereka tidak berprasangka pelit. Sebab sempitnya keuangan Anda dan mereka tdak tahu keuangan Anda.

Berdiam dirilah. Menahan lisan unuk tidak berkata,” Ini lho saya” Sekali-kali bersabarlah menahan lisan Anda untuk tidak bercerita pada kondisi terjepit. Lebih-lebih bercerita pada sahabat kental Anda. Yakinlah cukupkan diri biarlah hanya Allah yang mengerti. Dia tidak akan salah untuk tempat mengadu kesulitanmu. Dia tidak akan salah persepsi mendengar curhatanmu. Sambil bersabar mengadu pada Tuahanmu, Anda pikirkan jalan kreatif memecahkan kesulitan-kesulitan Anda.

Barulah pertahananmu untuk tidak mengadu kesulitan Anda dengan sahabat kentalmu, Anda jebol ketika Anda sudah mendulang sukses. Berceritalah kesulitan-kesulitan yang Anda alami setelah benar-benar Anda sukses. Sukses keluar dari krisis yang menimpa Anda. Jadikan sepenggal kisah yang menarik buat sahabat, anak cucu Anda. Merekapun merespon. Wow inspiratif. Dan katakan ngeteh yuk…

24 Komentar
  1. Tepat sekali.
    Musibah itu Guru Telaten… guru yang menarik iuran sekolah yang terlalu tinggi. Tapi sampaikan pada para sahabat, bahwa beruntung sekali mendapat pelajaran berharga dari guru tersebut. Bukan meneruskan keluh kesah.

  2. Saya jadi ingat cincin kawin kami, yang terjual buat makan. Hiks….

    • halal kan pak? he he boleh dijual krn bukan benda keramat.

      • Untungnya saya berfikiran seperti itu. Dan….. jreng jreng…..

        Sepulang dari “pasar tanah abang”, ternyata peabotan dirumah tinggal kasur kumal dengan dua buah bantal yang lebih kumal, lemari plastik dan alam masak. Selain itu…….. sudah balik nama kepemilikannya.

  3. Kalau biasanya saya mendengar istilah ‘pengalaman adalah guru terbaik’ tapi sekarang
    ‘Musibah itu Guru
    Telaten…’
    WOW! I like it.

  4. Ketika iman sedang menipis, musibah menjadi bulan-bulanan objek kesalahan…😀
    Kembali singgah di blog ini, Bu Min… Setelah sekian lama terpekur

  5. musibah itu guru telaten,…….wow kereeen nih, sangat inspiratif

  6. Musibah, kegagalan guru yang telaten.. bener banget nih mbak.. guru yang sangat memberikan kita makna kehidupan menjadi lebih baik, dan menjadi lebih pribadi yang pandai bersyukur🙂

  7. Sya baru dengar istilah ini. .

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Mintarsih…

    Tulisan yang sungguh mencerahkan untuk mengingatkan diri kita bahawa setiap musibah yang kita hadapi semuanya sudah dalam rencana Allah sejak azali lagi. Oleh itu, sebolehnya kita jangan berputus asa atau kecewa dengan apa yang berlaku.

    Percayakan Qada dan Qadar merupakan rukun iman yang wajib kita terima dengan redhanya. Namun begitu, jaminan Allah bahawa Allah tidak mengubah nasib manusia itu kecuali manusia mengubah nasibnya sendiri juga termasuk dalam qadak yang mubram (boleh berubah).

    Semoga kita dapat memahami masalah orang lain dan berusha meringankan beban mereka saat mereka memerlukan.

    Salam manis di tahun 2013, mbak😀

    • iya mbak fat dengan memahami usibah yang kita terima kita bisa berempati kepada orang lain. salam manis juga dari kudus

  9. maturnuwun Bu Min…🙂
    benar-benar mengambil pelajaran dari postingan ini, kalo kita cerita kesusahan kita ke orang lain, yang pasti kita terima adalah rasa kasihan. Syukur-syukur kalo hanya rasa kasihan, yang lebih parah mungkin malah nyukurin ya Bu..🙂

  10. musibah ya musibah aja mbak Min… klo diambil hikmahnya saya malah lebih condong kesana dech🙂

    • bahasa agamanya itu ya hikmah Qom, sebagai muslim kita harus pandai-pandai menarik hikmahnya disetiap musibah. sehingga kita menjadi pribadi yang cerdas

  11. Sepakat Mbak Min….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: