Skip to content

Jadi Ibu Kretif Yuk

7 Januari 2013

Jadi Ibu Kretif  Yuk

Ibu kreatif itu sangat dibutuhkan dalam mengembangkan dan menumbuhkan gizi keluarga. Diharapkan dengan gizi yang baik anak-anak akan tumbuh sehat dan cerdas. Pola makan yang tersaji di atas meja harus menjadi perhatian seorang ibu. Kerangka berpikir ibu  dalam  menyajikan makanan standarnya itu ya, empat sehat lima sempurna, bukan sekedar enak atau tidak enak.

Namun masalahnya antara idealita dan realita itu berbeda. Maunya sih menyajikan makanan buat keluarga dengan pola gizi  empat sehat lima sempurna tetapi duh kantong keluarga tipis banget. Lantas sebagai ibu mundur teratur menyajikan makanan dengan ala kadarnya? Saya kira jangan, tetap saja sajikan menu penuh gizi di keluarga Anda. Kantong tipis tidak masalah tetap saja di atas meja ada ayam goreng, telur bebek. Hems memang bisa? Bisa donk. Berhutang? Tidak lah ya uwh.Lalu caranya?

Mudah saja, Anda memenuhi gzi keluarga asal kreatif saja. Seperti yang saya lakukan pada keluarga saya. Sebagai ibu yang idealis he he maklum nikah muda semangat masih menggebu-gebu, saya berkomitmen untuk tidak bekerja di luar rumah. Selama anak-anak saya masih balita saya akan mendidik dan mengasuhnya sendiri. Otomatis idealisme ini perlu pengorbanan saya tidak bisa membantu keuangan keluarga. Maka bisanya yang saya lakukan adalah memelihara ayam dan bebek sebagai pilihan alternatif agar di meja tersaji ayam goreng dan telur bebek.

Banyak kah ayam dan bebek yang saya pelihara? Weh kalau banyak, ceritanya bukan keluarga baru berkantong tipis. Ya, sedkitlah yang mampu saya pelihara. Ayam cukup satu ekor sedang bebek cukup empat. Dan singkat cerita sukseslah saya sebagai peternak. Berubah banyak kah ayamnya? Tetap satu ekor he he. Lah kok? Ya, iya lah. Setiap anaknya sudah gede aku potong satu persatu. Kan tujuannya pelihara untuk disantap. Nasib sang bebek?

Cerita nasib sang bebek itu indah. Mereka itu tidak dipotong melainkan cukup diambil telurnya. Tiap hari saya selalu mengambil empat telur. Nah, kalau dikalikan dalam satu bulan saya punya persediaan seratus dua puluh telur. Wow, lumayan banyak kan? Nah, sampai sampai dua anakku yang masih balita mukanya terserang bisul-bisul. Wedeh karena sangking banyaknya mengkonsumsi telur bebek.

Asyiknya memelihara bebek dalam keluarga saya itu bukan sekedar bisa makan telur bebek. Melainkan, mendidik dua balitaku untuk mengenal proses. Ya, merekalah, tentu dengan ayahnya bersama-sama mencarikan besusul/betutu dan ketam (syarat agar bebek bertelur) di sawah. Sambil menyelam minum air. Sambil bermain cari ketam dan besusul. Siapa yang tidak senang. Berkotor-kotoran mereka paling suka. Setelah sampai di rumah merekapun yang memecahkan cakang besusul dan ketam. Selanjutnya mereka juga yang memberikan pada sekawan bebek. Hems, benar-benar sambil menyelam minum air. Sangat menghibur buat mereka.

Mengasyikkan bukan jadi ibu kreatif? Kantong tipis tidak mengapa yang penting happii.

From → coretanku, kataku, nasihat

27 Komentar
  1. wah betul-betul kreatif bu.. meski kantong tipis tapi tetap memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya, semoga si kecil yang sekarang sudah bertambah usia semakin baik perkembangannya

    • semoga mreka tubuh dengan baik ya pak narno. kantong tipis gak masalah asal ada kemauan insyaallah ada jalan lain menuju Roma

  2. besusulnya sebagian dimasak juga mba min, enak lho dibothok😀

  3. aku koq kalau dah melihara kayaknya ga tega motongnya deh mba.
    telur bebeknya di jualin aja mba😀

  4. Dulu Bapak saya memelihara ayam Bu Min, tapi karena peliharaan sendiri, saya ga pernah mau (tega) makan telor maupun dagingnya.. T.T Hehehe

    • wah pas bertelur kamu ngintip Dan? sehingga gak tega makan telurnya. he he kayak keponakanku gara gara ngintip ayam bertelur gak tega makan telur

  5. sepakat Mbak Min….di rumah aku juga memelihara beberapa unggas..ada ayam, burung puyuh, mentok…selain kreatif, juga mengajari anak2 akan sebuah proses terjadinya ‘sesuatu’

  6. hahaha kreatif banget dah mbak min ini, mancapppp…. Anak dpt ilmunya, juga mengenal sekitarnya…. Saya pengen banget tuh dpt bini yg begini hihihi

  7. sebagai [calon] ibu harus banyak belajar dari mbak Min nih🙂

  8. mbak, besusul itu apa ya? tanya mbah gugel kok nggak nemu saya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: