Skip to content

Menulislah hingga Kau Tahu Kedalaman Hatimu

9 Januari 2013

Menulislah hingga Kau Tahu Kedalaman Hatimu

Menunulis itu menggali memori kita yang terpendam. Apa-apa yang sudah kita lewati menurutku hal yang mudah kita gali. Kalau yang belum kita alami sepertinya kok sulit. Menulis tentang dunia anak misalnya, akan mudah kalau kita bergelut dengan anak-anak. Dari hasil bergelut dengan anak-anak kita rangkai dengan pengalaman hasil membaca buku dan hasilnya tambah tok cer alias luar biasa.

Ngomong-ngomong tentang keluarbiasan dalam kreativitas menulis kita adalah menyelam kedalaman hati kita. Cei ceih. Iya, betul meyelam begitu. Sebelum kita menulis sepertinya kita dangkal memahami diri kita. Dulu sebelum saya menulis memandang dunia kecil saya ya biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Tetapi begitu menulis kok saya merasa diri ini sangat beruntung. Beruntung lahir di dunia dengan segala keterbatasan yang dimiliki orang tua saya.

Menulis itu ibaratnya  memotret . Tahu kan, memotret itu, kita fokus kepada suatu objek. Nah, objek yang kita pilih benar-benar yang asoi, unik, menarik. Dengan pilah-pilih keasoiaan, keunikan, dan kemenarikan objek inlah perlu penggalian data. Data kita gali dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang kita godok di kedalaman hati kita, “apa sih menariknya peristiwa ini saya bagikan ke orang lain”. Dan ah ha!!! Sepertinya menarik nih peristiwa ini bila ditulis. Barulah ketak-ketik kita susun dalam kalimat-kalimat yang tertuntun oleh pikiran dan hati kita.

Lama-lama kalau kita sering-sering menulis atas peristiwa yang kita alami akan menajamkan mata hati kita. Susah-senang kalau sudah diolah dalam karya berupa tulisan bukan lagi menjadi barang busuk yang tersimpan dalam hati dan pikiran. Wedeh ngerikan kalau hati dan pikiran teracuni sampah yang harus kita buang. Peristiwa senang yang kita alami dengan olahan dari dasbor hati yang bersih akan membebaskan hati dari rasa sombong. Kepiluan yang kita alami lalu kita tulis juga tak akan meracuni hati dari kebusukan dendam dan amarah.

Nah, kan jangan ragu untuk menulis. Peristiwa yang kita alami itu ibaratnya seperti anak-anak TK yang disuruh membawa sekantung tomat dan kentang segar. Kemana-mana sekantung tomat dan kentang itu dibawa kemanapun pergi. Tidak pernah dibuka apalagi dimasak. Tahu sendirikan lama-lama tomat dan kentang yang mereka bawa kemanapun pergi akan busuk. Tentang baunya jangan ditanya lagi. Begitu pun peristiwa yang kita alami. Kita simpan dalam hati dan pikiran dan kita bawa kemana-mana.  Ha ha sampai tidurpun dia masih menghantuimu. Oke Tunggu apalagi jangan sampai menjadi sampah di hatimu. Keluarkan saja dengan menuliskan di secarik kertas boleh, di buku diary bagus atau di blog gratisan tambah bagus. Yang penting jangan sampai menjadi sampah yang membusuk.

 

From → coretanku, kataku

14 Komentar
  1. aku baru mencoba untuk menulis bu…, makanya tulisanku tak sebaik teman-teman blogger yang lain

  2. mari menulis😀

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Mintarsih….

    Subhanallah, saya kira, tulisan ini panjang, mbak.
    Rupanya ada “penggandaan”. Mungkin bisa di delete salah satunya.😀

    Saya senang menulis apa sahaja yang saya alami.
    Saya setuju, semua yang mbak tuliskan di atas.
    menulis itu mudah, menulis itu senang dan menulis dengan hati akan sampai ke hati.

    Yang pentingnya, manfaat menulis akan menjalar kepada seluruh yang membacanya.
    Selamat menulis mbak. Saya juga masih belajar menulis.

    Salam manis dan sukses selalu.😀

  4. Iya Bu Min, mari kita terus menulis dan menulis😀

    Bu Min, itu paragrafnya pada kedobel atau cuman di reader saya aja ya?

  5. Menulislah hingga Kau Tahu Kedalaman Hatimu …. bagus sekali Jeng, inspiratif menjadi penyemangat belajar menulis. Salam

  6. Saya udah lama gak menulis. Baca posting ini pengen menulis lagi. Trims udah berbagi.

  7. Oke… Insya Allah saya akan menulis sampai tua nanti

  8. Mari terus menulis …😀
    TFS mbak …

  9. Menuangkan apa yang ada di pikiran itu mudah tapi susah. . 😆
    Saya lagi berusaha mulai menulis dengan benar, Bu.
    Dari dulu saya menulisnya “sek kepenake dewe”.😦

    Bu, mari ikut meramaikan Give Away di Blog saya.😉
    http://idahceris.wordpress.com/2012/12/20/give-away-langkah-catatanku/

  10. tetep nulis, perkaya bahasa dan terus belajar bahasa ibu, bahasa indonesia. jangan lupa dibaca ulang setelah selesai, karena misspelling itu mengurangi kenikmatan membaca.
    keep on good work!

  11. menulis menyenangkan hatiku mbak

  12. menulis bisa jadi salah satu bentuk terapi untuk menenangkan diri ya Mbak🙂

  13. Sepakat dg kalimat “jangan ragu untuk menulis” ini.
    Luar biasa, ini menginspirasi saya untuk terus menulis khususnya di blog.
    Oerlu keberanian juga untuk mewujudkan, tapi harus bersiap, mungkin, dg olok-olok, misalnya, ini ngeblog apa curhat, atau, yg gitu aja di blog kan-lebay amat…
    Apapun saya akan tetap menulis apa saja hal yang saya temukan dlm perjalanan hidup saya ini.

    Salam,

  14. bener banget Bu Min. menulis memang bisa mengurangi beban pikiran. Tapi harus bijaksana agar tidak menyesal di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: