Skip to content

Pola Asuh Remaja: Bersamamu, Nak Selalu Ada Kejutan

14 Januari 2013

Pola Asuh Remaja: Bersamamu,  Nak Selalu  Ada Kejutan

Membesarkan dan mendidik anak tidak cukup berbekal dengan teori yang  kita baca dari buku. Seringnya meleset dari teori yang kita baca.  Sebagai orang  tua yang bercita-cita mempunyai anak sholeh apa yang didengar, dilihat, dan dibaca berusaha semaksimal mungkin diterapkan. Mulai dari memberi keteladanan, pengarahan, atau hukuman, weuh setelah anak memasuki ABG sepertinya menguap deh.

Masa balita rasanya mulus-mulus saja, lebih-lebih pas usia dua tahun tinggal kasih contoh anak  tanpa membantah ngikuti saja apa yang kita lakukan. Misalnya tuh si ayah pergi ke masjid weleh tanpa ba bi bu ngekor saja. Senang-senang saja, malah kalau tidak diajak menangis. Begitu juga ketika ketiduran siang ,kita kasihan tidak membangunkan ke TPQ ia menangis karena tidak pergi ngaji. Tentang hari libur bukanlah hari yang ditunggu-tunggu untuk tidak melakukan kegiatan belajar. Tetap saja mereka belajar. Pokoknya mendidik dimasa balita itu menyenangkan, menggemaskan, mulus-lus tanpa problem yang berarti.

Baru tahu rasanya setelah mereka beranjak dewasa. Apa yang kita berikan di masa balita sepertinya menguap. Kalau  kita tidak sigap benar-benar hilang. Tatanan, kebiasaan waktu kecil rasanya mereka itu ingin meninggalkan. Maka tidak heran anak diusia remaja merokok padahal sang ayah tidak mencontohkannya. Anak dulunya rajin ke masjid, remajanya meninggalkan sholat.

Disinilah Orang tua itu hendaknya jeli-jeli saja meramu teori  parenting dengan trial and error dalam mendidik anak (tentunya juga berdoa). Jiwa remaja itu memang berubah-ubah. Pada masa ini remaja ingin memisahkan diri dengan orang tua. Lebih bahagia dengan teman sebaya mereka. Paling malas kalau diajak kumpul-kumpul dengan kerabat besar. Nah, saat kondisi inilah jangan sampai remaja kita lepas dari kehangatan keluarga dan kerabat besar kita.

Jikalau, remaja kita lepas dari kehangatan keluarga, ia lebih memilih kehangatan di luar. Jangan harap ia dapat kita pegang lagi. Ia bisa-bisa lepas seperti anak busur. Sulit kita kendalikan. Dan masa mengikat untuk tidak lepas liar melainkan lepas bertanggung jawab itulah banyak hal yang membuat kita terpana. Menganga tidak percaya. Oh, anakku yang dulu manis sekarang pandai berselisih ya. Ah, namun tidak mengapa nak, kejutanmu membuat orang tuamu semakin cerdas. Cerdas emosional. Cerdas spritual. Insyaallah.

Yang penting sebagai orang tua yang gaul  harus punya keberanian menghadapi perubahan, enjoy sajaaa gitu loch!

15 Komentar
  1. Saya pernah membaca ungkapan seorang penyair yang melukiskan perasaan seorang ayah/ibu terhadap anak-anaknya sbb:
    “Anak-anak kita di antara kita adalah hati kita yang berjalan di muka bumi. Kalau angin berhembus kepada mereka, pastilah mataku tak bisa terpejam.”
    Untuk itulah perlu kiranya anak-anak itu dibekali ilmu-ilmu agama dan kemandirian. Ortunyapun juga kudu gaul dan ngikutin perkembangan teknologi agar bisa preventive🙂

    • ya pak iwan kta sebagai ortu harus mengikuti teknologi agar bisa menyambungkan hati kita dan hati mereka

  2. waaah.. saya mesti bener-bener bersiap ya Bu Min. semoga kami bisa terus mendidik anak sampai usia dewasa nanti..

  3. serperti peristiwa yang saya alami bu,……gmna ya carane biar kita siap menghadapi perubahan pada anak saya, meski sudah berbagai cara saya tempuh, dikasih contoh, diperingatkan tapi yah hasilnya belum terasa

  4. Alhamdulillah El hidup di lingkungan keluarga besar, tidak terpisah2.
    Bibi, paman, saudara2nya rumahnya satu kampung.
    teman sekolah, teman bermain, semua serba keluarga, jadi terkontrol terus sampai dewasa sekarang.

    Jika pergi ke daerah lain berminggu – minggupun rasanya gk Enak, pengen pulang terus rindu keluarga.

    Alhamdulillah di anugerahi keluarga baik – baik.
    🙂

  5. Aku ikut nyimak dulu mbak Min

  6. Assalamualaikum Min,

    Post ini memang sesuai untuk ibu bapa baru mendapat anak agar mereka bersedia pabila anak-anak mereka meningkat remaja.
    Terutama para ibu yang sudah mempunyai anak-anak remaja, mereka dapat merasakan perubahan itu.
    Sifat itu adalah natural, asalkan kita sebagai ibu harus pandai control anak itu dan sering mendekati mereka. Saya pasti kita tidak akan kehilangan mereka.

    Terima kasih kerana sudih ke blog saya.

    Salam dari seberang,
    bintangzohra

    • betul zohra sebagai ibu sering dekat dg anak. saat saat remaja inilah kontrol dari orang tua sangat dibutuhkan remaja. layaknya main layang layang saja. tarik ulur.

  7. Jikalau, remaja kita lepas dari kehangatan keluarga, ia lebih memilih kehangatan di luar. Jangan harap ia dapat kita pegang lagi. Ia bisa-bisa lepas seperti anak busur. <—- kereeen juga. Ijin posting ini di twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: