Skip to content

Cinta Terlambat Berkembang

9 Februari 2013

Cinta Terlambat Berkembang

Kematian selalu meninggalkan rasa tersendiri bagi orang yang masih hidup. Lebih-lebih   bila meninggalnya dengan tiba tiba. Tanpa diawali dengan sakit parah. Seperti yang dialami oleh teman saya. Ia begitu tidak kuasa menahan sedih melihat suami sudah terbujur kaku, mati. Padahal semalam ia masih memboncengkan dengan sepeda motor. Berdua mengunjungi dokter untuk memeriksakan giginya yang sedikit rewel.

Tahu-tahu tak percaya kalau paginya ia sudah tiada. Tidak ada pesan atau sekedar isyarat bahwa dia akan berpisah selamanya. Yach, ia menangis sejadi-jadinya. Sampai-sampai lupa anak-anaknya yang masih kecil. Yang perlu rengkuhannya. Hiburannya. Namun tidak ia lakukan. Menangis. Dan terus menangis, sampai ia tak sadarkan diri.

Kesadarannya ingin menjadi istri yang baik itulah rupanya yang ia sesali. Ia begitu merasa berdosa sekali karena selama hidupnya ia hanya menjalankan rumah tangganya dengan terpaksa. Ia terpaksa menerima suami karena wasiat ibundanya. Ibunya menjodohkannya karena ia laki-laki yang berakhlak mulia meski tidak cakap wajah. Sementara ia mendambakan laki-laki yang cakap. Well, jadinya ia menjalankan biduk rumah tangganya dengan separoh hatinya. Lalu. Iya cinta terlambat berkembang.

Suaminya yang selalu baik padanya. Ringan tangan. Tidak rewel untuk dilayani pernak pernik kebutuhannya. Apa yang bisa dilakukan, dia lakukan. Tidak merepotkan istri. Namun ia menganggap biasa-biasa saja. Bukan hal yang patut ia syukuri. Rupanya perasaan inilah yang membuatnya meratap-ratap. Meminta maaf kepada suaminya. Hal yang tak mungkin mendapatkan jawaban suaminya yang sudah meninggal. Ia sangat khawatir kalau suaminya selama hidupnya tidak memaafkan dari keteledoranya untuk bisa menerima suami apa adanya.

Ah, pelajaran yang sangat berharga buat saya. Sesungguhnya dalam pernikahan masalahnya bukan sekedar kita sudah ada cinta apa belum sama si dia. Pilihan sendiri atau dijodohkan.  Permasalahan sesungguhnya adalah siapkah kita menerima pasangan yang sudah kita pilih. Baik dipilih karena terpaksa atau dengan  senang hati. Kesiapan kita menyesuaikan diri dengan pasangan, berkompromi dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan gambaran idealis kita pada pasangan. Kesiapan inilah awal menuju sukses dalam membina biduk rumah tangga.

Sayang sekali bukan, kalau kesadaran cinta kita terlambat. Hanya gara-gara kita terlampau berangan-angan palsu. Maksud saya berangan- angan palsu itu, tidak mau melihat kebaikan yang diberikan Allah lewat pasangan kita.

Kalau sudah jodoh mau lari ke mana?

From → coretanku, nasihat

17 Komentar
  1. Sesungguhnya dalam pernikahan masalahnya bukan sekedar kita sudah ada cinta apa belum sama si dia. Pilihan sendiri atau dijodohkan.. saya setuju dengan yang ini bu Min….karena jika sudah berjodoh maka sulit untuk dipisahkan kecuali maut yang datang

  2. Ikut bersedih atas kehilangan sang teman mbak Min. Mengapa ya penyesalan selalu terlambat datang. Kejadian ini juga pelajaran untuk saya. Terima kasih telah berbagi

  3. semoga saya nanti bisa mendapatkan istri yang pengertian dan saya sendiri bisa menjadi suami yang pengertian🙂

  4. Kematian tak ada yang mampu menduga, ikhlas tak ikhlas tak akan mengubah keputusan-Nya.
    Sebuah kisah yang menyentuh rasa, Mbak…

  5. terima kasih telah mengingatkan mbak Min….

  6. tetep kita ga bisa memasrahkan diri pada kata itu
    usaha dan upaya harus ada ga cukup modal kata jodoh yang kita tak tahu definisinya
    dan memang benar sih
    kita seringkali merasakan sesuatu terasa lebih indah setelah dia pergi…

  7. Kalau sudah jodoh mau lari ke mana?

    Pertanyaan yang mengandung kebijaksanaan.
    Betul sekali, cintailah terhadap apa yang telah ditakdirkan, agar tidak terjebak pada angan-angan palsu.

  8. Makasih Mbak Min di ingatkan…hal-hal yang telah dilakukan oleg pasangan terkadang malah terlupakan, padahal itulah yg terpenting…selalu ingat kebaikan2 yang setiap hari dilakukan oleh pasangan kita…

    • oke mbak lis sama sama , aku pun tersentak ketika hadir di rumah duka. betapa kita harus saling memaafkan bila baru bermasalah tanpa diminta maupun diminta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: