Skip to content

Oh, Inikah Rasanya Cinta

23 Februari 2013

“Febi. Berapa kali aku harus bilang padamu?”

“Jangan kau taruh putung rokokmu di  kolong  ranjang.”

Dan kali ini suaminya tidak mengambil putung rokok untuk dibuang di asbak. Seperi hari-hari lalu. Mengalah. Berharap istrinya mau berubah. Meninggalkan kebiasaan buruk. Membuang putung rokok di kolong tempat tidur. Lebih-lebih ia mau berhenti merokok di samping buah hatinya.

“Feb. Kau itu ibu macam apa sih? Kau sungguh keterlaluan. Setiap hari kau racuni bayi kita dengan asap rokokmu. Lihat Lena. Atau Arini. Kau bisa belajar dari mereka. Meski mereka masih muda darimu. Tetapi mereka lebih becus mengurus bayinya”

“ Oh, kau menyesal memilih aku? Mengapa kau dulu tidak memilih Adik_adikku. Mereka lebih manis-manis dari ku. Lebih feminim. Hai, kenapa kau lebih memilih gadis tomboy yang bernama Febi? Gadis tomboy perokok. Apa dulu kamu gak lihat Bramantoro.”

“ Bukan itu maksud saya Feb” Maafkan aku. Ah. Feb”

Bram merasa  bersalah. Bram mendekat duduk disamping Febi pada pinggir kasur. Mengelus lembut pundak istri yang sangat dicintainya. Berharap teguran keras pagi ini tak menyulutkan luka lama di hati istrinya. Luka hidup akibat broken home. Dan Bram sudah berjanji untuk menerima Febi apa adanya.

“ Aku benci pada kaummu Bram. Coba kalau kau yang merokok. Tidak aku. Apakah kau dikatakan bapak macam apa? Apakah juga kau dikatakan kau tidak becus mengurus anak?Tidak, kan Bram. Tidak juga tatapan mencemooh bila kau gendong Leoni sambil merokok. Tapi bagaimana kalau aku?”

 “Sudah Feb, sudah jangan kau teruskan amarah lamamu. Lihat lah Leoni dia baru tidur. Cobalah lihat putri kita ia sangat cantik. Mirip sekali dengan mu suatu saat bila ia menjadi gadis bisa saya jamin dia kembaranmu.”

Rayuan Bram tidak membuat luluh hati Febi. Yah, Bram sepertinya membangunkan macan tidur.

“ Aku benci laki-laki. Kenapa selalu menuntut wanita untuk sempurna. Sakit Bram bila aku mengingat itu semua. Bagaimana ibuku satu kali melakukan kesalahan fatal, selingkuh. Dosanya tidak termaafkan oleh ayah. Tanpa kesempatan satu kali saja agar ibu bisa memperbaiki kesalahannya. Tetapi laki-laki terlalu pongah. Cerai itu yang pantas hukuman buat ibuku. Dan aku. Aku juga yang menanggung aib. Selalu dicemooh dhina oleh kawan-kawanku.”

“Lalu bagaimana dengan tante Mira? Adik bungsu ibuku. Wanita setia tetapi juga dikhianati suaminya. Berulang-ulang, Bram tante Mira dikhianati. Tetapi Kaummu menuntut agar wanita harus bisa memaafkan. Dan apakah sepupuku Lena atau Arini dicemooh oleh teman-temannya? Tidak, Bram. Karena apa? Yang berbuat bukan perempuan, seperti ibuku, Bram!

“Feb. Maafkan aku. Bukan aku bermaksud mengungkit masa lalumu. Tetapi aku hanya ingin kau tidak ceroboh saja. Aku khawatir akan keselamatan putri kita . Itu saja Feb yang ingin aku katakan padamu.”

“Aku ke kantor dulu Feb”

“Terserah.” Jawab Febi ketus.

Seperti biasanya meski hati belum reda dari amarah, Febi menyeret kakinya menuju dapur. Mencuci piring sebuah pekerjaan yang paling ia sukai saat hati sedang marah. Tak tahu mengapa ia paling suka pekerjaan ini untuk melepas amarah. Barangkali sensasi sabun coleklah yang menjadi aroma terapi , pengobat luka hati. Yach, kala kecil ia selalu bersembunyi di dapur bila melihat ayah ibunya bertengkar hebat. Dan ia meremas-remas sabun colek. Menghirup dalam-dalam aroma sabun colek.

Dan, pagi inipun ia melakukan hal yang sama persis ketika ia kecil dulu. Baru satu hirupan dengan sangat menikmati aroma terapi sabun colek. Ia dikagetkan dengan aroma khas lainnya. Kebakaran! “ Hah, leoni”

“Tidakkkkkkkkkkkk.”

“Mas Bramm”

Febi sekuat tenaga lari ke kamar anaknya. “Oh, Allah. Ya Tuhan.”

“Bi In nnah! Sudah berapa kali saya bilang jangan membakar sampah dekat jendela.”

“ Maaf,  Nyah konde bibi sudah ada gantinya. Jadi ini saya bakar , Nyah”

“Oh, inikah rasanya…cinta, Bramantoro buat Leoni dan tentu aku ibunya.” Gumam febi sendiri.

From → pembelajaranku

10 Komentar
  1. Jadi..sebenarnya Febi juga sayang anaknya ya, Bu? Mungkin pesan moralnya adalah..seringkali kita mengharap orang lain berbuat baik untuk kita, sementara kita sndiri tidak ada usaha untuk berbuat yang sama. he he..begitu bukan maksudnya, Bu Min?

  2. akhirnya diingatkan jga apa itu arti cinta kasih ya mba… walo lwt cara akhirnya diingatkan jga apa itu arti cinta kasih ya mba… walo lwt cara akhirnya diingatkan jga apa itu arti cinta kasih ya mba… walo lwt cara akhirnya diingatkan jga apa itu arti cinta kasih ya mba… walo lwt cara yg lain

  3. Hmmm, rumit kalo salah satu tidak mau mengalah dan saling menyadari serta memperbaiki diri 🙂

  4. Jadi inget lagunya ME, inikah namanya cinta. hiihi.. :p

  5. Bicara soal cinta tak akan ada habisnya ya mbak🙂

    • betul mbak selama hayat masih dikandung badan. he he cerita Adam dan anak adam kan bermula dari cinta

  6. aku pikir melepaskan amarah pas cuci piring dengan cara klonteng-klonteng sesekali dipecahin satu he he he…. keknya si febi dulu bawa sabun colek di tas buat jaga2 peredam amarah

  7. he he cinta memang berasa bu Min, baru tahu ya?

    • Febi pak yang belum tahu bagaimana mencintai anak hanya karena masih belum ikhlas akan taqdirnya

  8. menulis soal cinta juga sejuta rasanyan ya Mbak …# fiksinya bagus Mbak..jadi pengin belajar sama Mbak Min !🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: