Skip to content

Kalau Cinta Harus Memiliki

2 Maret 2013

”Mariana sampai kapan kau bertahan dalam keterpurukan seperti ini. Cobalah buka celah hatimu sedikit saja.  Aku yakin kau bisa. Kau sudah teruji lolos dalam banyak kesulitan.”

“Jek, ini lain. Aku tidak sanggup. Kau jangan salah memandangku. Aku wanita. Lain denganmu yang begitu mudah melupakan masa lalu. Ah, terlalu getir Jek.

“Mariana. Lihatlah ombak itu. Ombak itu membawa buih. Dan bagaimana nasib buih itu. Hilang tak berbekas. Padahal ketika ia masih bersama ombak ia seakan-akan menerjang dengan kekuatan yang dasyat. Dan apakah buih itu menyakitimu bila ia sampai di tepi tempat kau berdiri.”

“Maafkan aku Jek sepertinya pengibaratanmu belum bisa saya terima. Aku mau pulang hari sudah sore.”

“Tak apalah Mariana. Tidak untuk hari ini, namun aku berharap ada saatnya nanti kau mengerti apa yang aku ucapkan sore ini. Sampai esok lagi.”

“Aku tak berjanji Jek.“

“ Mariana Buih itu tidak akan menerjangmu kala sampai di tepi.” Jek menyerukan lagi untuk melepas Mariana. Mariana hanya menoleh saja tanpa mau berjanji kalau esok ia akan menjumpai Jek lagi.

Mariana bukannya menyalakan lampu malah langsung merebahkan badan berdiam di kamar tengah. Tubuh mungilnya tak kuasa sekedar duduk untuk menghirup teh hijau kesukaannya. Teh yang sudah disiapkan oleh mbok Yem. Mbok Yem perempuan paruh baya, pengasuhnya sejak ia masih kecil. Ia sangat tahu kesukaan sang majikan. Namun, aroma teh hijau kali ini sangat tidak menggoda hidung bangir nona manis, Mariana. Si Mbok hanya melongo menatap punggung sang majikannya.

Mariana memilih tidur. Mengosongkan pikiran. Namun gagal. Bayangan Budi selalu berkelebat. Mengaduk-aduk pekirannya.

“Ahhhh, Bud.”Desahan panjang  Mariana tak mampu menyingkirkan wajah Budi, suaminya. Ia ingin yang hadir adalah bayangan suaminya dengan segalah tingkah lakunya semasa awal pernikahannya sampai putri pertamanya berusia lima tahun. Bukan wajah suaminya satu bulan sebelum detik-detik kematiaanya.

Berharap dengan dengan mengingat wajah yang melecehkan, merendahkan status ia sebagai istri. Bicaranya yang kasar dengan tatapan mata piciknya. Lebih-lebih perlakuannya di dalam kamar. Akan menghilangkan kenangan dengan Budi dalam satu bulan terakhir, kenangan manis. Namun, tetap bandel saja yang hadir adalah wajah satu bulan yang lalu. Wajah penuh penerimaan. Bukan bayangan Budi lima tahun kesalahannya tidak menganggapku sebagai istri.

Aku adalah barang kehormatan keluarga priyayi. Gadis korban pemerkosaan. Budi si sopir pribadi ayahku  dibeli ayahku.  yang dengan terpaksa harus mau menerima keputusan juragannya demi balas budi atas kebaikan juragannya yang sudah mengasuh sejak kecil . Sementara hanya dalam hitungan jari ia akan bersanding dengan pujaan hatinya.

Oh, Bud mengapa satu bulan kemarin tidak kau teruskan menganggapku barang busuk yang yang kau terima dari ayahku. Mengapa kau tiba-tiba berubah dratis. Lembut tutur katamu. Kau gendong Mimi berkeliling taman. Bercanda –canda dan kalian sangat menikmati kebersaaman itu. Mengapa Bud tidak kau teruskan saja kebencinmu kepadaku. Sehingga aku tidak mengalami rasa sakit dan bimbang seperti ini. kau seret aku pada pusaran cinta sekejapmu. Yach, barang kali kau dan aku baru jatuh cinta. Dan cintaku padamu ada pada puncaknya. Dan haruskah aku jatuh cinta lagi pada laki-laki lain. Macam apakah aku ini. Bisik batin Mariana.

Mariana, tapi Jek bukanlah laki-laki asing buatmu” bantah kata hati Mariana lagi. Ia laki-laki yang lembut memperlakukan dirimu. Meski ia tidak pernah mengatakan cinta padamu. Kau saja dulu yang pura-pura tidak tahu. Sok kecakepan sih kamu Mariana ejek lagi hatinya. Nasib saja yang tidak beruntung. Tidak ada dalam daftar orang yang dicari ayahmu. Hanya karena ayahmu takut nama baik ayahmu tercemar.

Mariana jangan  kau menyesal untuk ke dua kalinya. Ia laki-laki yang baik. Buktinya selama ia berpisah denganmu. Pada pertemuannya yang tidak terduga, sore tadi. Tanpa ragu ia mau menggantikan Budi darimu dengan segala cerita masa kelammu. Bujuk hati Mariana.

“Mariana Buih itu tidak akan menerjangmu kala sampai ditepi. Percayalah.” Benarkah itu, Jek. Mariana mencoba mensugesti diri.

Tapi aku tak cukup yakin Jek, sebab laki-laki bilang “Terkadang laki-laki membaca ada yang dengan akal dan ada juga yang dengan hatinya. Jika ia memandang atau membaca sesuatu dengan hati dan akalnya seperti main petak umpat.” Dan aku sangat gelap dengan perumpaan kaummu.

From → Tak Berkategori

13 Komentar
  1. maaf bu ceritanya koq diulang sampai dua kali mang apa ya maksudnya ?

  2. wah mba… ceritanya error nih…
    berulang-ulang terus… jadi gak finish…
    penasaran…

  3. klo dibaca dr hp gak error kok mbak, gak ada bagian yg diulang… hehe

    kasihan bgt yaa si Marina.. pertama jd korban perkosaan, trs harus nikah sama supirnya, tersiksa slama 5th… eh kok yaa setelah dpt cinta malah ditinggal ‘pergi’
    ngenes tenan mbak…

  4. Semoga Mariana menemukan kebahagiaa..

  5. Ceritanya menarik walaupun ada kesalahan teknis…

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Mintarsih…

    Sungguh sukar memberi cinta kepada yang lain, setelah putik cinta berbunga hingga ke puncak. Benar mbak, tidak semua wanita semudah itu mengalih cinta apabila berlaku perpisahan. Cinta bagi wanita yang ikhlas menyintai yang dicintainya akan sentiasa teguh tanpa ada gantinya. Kerana itu, ramai wanita yang setia dengan satu cinta hingga ke akhir hayatnya.

    Tetapi, harus juga diberi peluang kepada cinta baru yang hadir kerana kemungkinan itulah cinta paling abadi dalam hidup. Cuma kita harus berhati-hati memberi cinta buat kali keduanya.

    Kisah menarik dan mengesankan. Salut ya mbak, bisa buat cerpen cinta. Banyak posting mbak akhir-akhir ini mengenai cinta. Ada apa-apa kah mbak ?… hehehe.

    Salam rindu selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    • waalaikumussalam wr.wb
      mbak Fatimah,
      wah betul sekali pendapat mbak fat. he he makanmasak ya banyak janda dibanding duda ya mbak.
      dari endapan membaca berita duka di yahoo mbak saya coba ubah menjadi cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: