Skip to content

Bukan Lupa

30 Oktober 2013
Tuhan,
tiba saat pekat malammu
hanya Engkau terlihat
andai pun tak terlihat
Kau melihat di malam -malam sujud terakhirnya,
ia begitu khusuk selayaknya sufi tak butuh dunia
 
Namun, saat terang benderang dengan
seterang terangnya tanpa malu
ia sangat rakus melebihi srigala lapar
dan masih melekat saat merakusi dunia
dengan jubah sucinya
Bukan ia lupa menanggalkan.

From → puisi, puisiku

8 Komentar
  1. Beribadahlah untuk akhiratmu, seakan kamu mati besok.
    Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu mati seribu tahun lagi.

  2. Malam beriman, siang menjadi koruptor.. itulah hati yg mudah dibolak-balikkan oleh-Nya… berdoalah kuncinya.

  3. perubahan itu cepat sekali, bagaikan pergantian siang dan malam. demikian juga sikap seseorang terus burubah dan berubah layaknya pagi masih kedelai sore sudah jadi tempe.

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Mintarsih….

    Semoga Allah memelihara kita dari munafik terhadap agama yang dianuti. Hidup ini tidak terjangkau bagaimana pengakhiran yang bakal kita temui sebelum meninggal dunia. Ada orang wktu paginya baik setelah menjelang petang, berakhir buruk dan begitulah sebaliknya. Alangkah rugi jika kita tahu tetapi buat-buat lupa.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.😀

    • waalaikum salam wr. wb
      amin. betul mbak fat sangat takut dari sifat munafik terhadap agama. betapa banyak sekarang mengatas namakan agama untuk mendapatkan dunia, baik itu berskala pribadi maupun golongan. smoga Allah menghidarkan sifat munafik pada kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: